Hari
santri nasional (HSN) yang ditetapkan pemerintah Indonesia 3 tahun lalu,
tepatnya pada tahun 2015 oleh presiden ke-6 Indonesia, Ir. Joko Widodo melalui
Peraturan Pemerintah NO 22 Th 2015, tentang penetapan hari santri memberikan
semangat dan pengaruh yang luar biasa di dunia kepesantrenan di Indonesia, baik
itu untuk pesantren ataupun untuk santri.
Pertama
bagi pesantren dengan adanya HSN membuat syiar dunia pesantren menjadi lebih
viral dan booming lagi di wilayah nusantara, di tengah modernitas ala barat
yang mengesankan pesantren adalah pola pendidikan tradisonalis yang jumud dan
sulit mengikuti perkembangan zaman, toh pada waktunya sejarah yang akan
membuktikan kalau pesantren akan terus eksis mengawal kemajuan indonesia. Pola
Pendidikan modern yang mengutamakan saint dan rasionalitas yang sudah dirasa
selama dua abad terakhir ini, ternyata memberikan dampak yang kurang baik bagi
kemunusiaan dan alam, pertama pola pendidikan modern menjadikan Pola
Kemanusiaan Umum (PKU) yang sudah berabad-abad berjalan dimasyarakat tercerabut
dari akarnya karena pendidikan modern mengarahkan manusia untuk cenderung
individualis dan kurang mementingkan kehidupan social, sehingga rasa toleransi,
keramahan-tamahan dan tolong menolong yang sudah mengakar kuat di masyrakat
menjadi perlahan-lahan tergerus arus modernitas.
Kedua pola pendidikan
modernis membuat sistem kapitalis sulit dihindarkan, banyak sekolah yang
berorientasi pada pemenuhan-pemenuhan tenaga kerja yang mengabdi pada system
kapitalis dan berorientsi pada eksploitasi alam yang sangat mengkhawatirkan dan
membahayakan kehidupan umat manusia kedepan.
Melihat
itu semua, benar rasanya kalo pesantren adalah pendidikan yang sesuai dengan
fitrah manusia dan alam, karena orientasi pendidikan pesantren adalah ahlak dan
kharakter, bukan pada pemenuhan materi.
Dengan kharakter yang unggul lulusan pesantren akan mampu menjawab tantangan
zaman baik segi ekonomi, sosial, politik dan budaya berdasarkan akhlak dan
keimanan kepada tuhan yang maha esa. Oleh karena itu slogan “ayo mondok” adalah
sebuah upaya untuk memviralkan kembali dunia pesantren yang sudah terbukti
mampu bertahan untuk menghadapi tantangan kemaujan zaman, mari budayakan sistem
pendidikan pesantren, yang itu memang system pendidikan asli Indonesia yang
diungkapkan oleh bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantoro.
Menurut
Prof Nurcholis Madjid (Caknur) seandainya negeri kita, nusantara ini tidak
dijajah oleh kolonialisme Belanda, mungkin system pendidikan Indonesia akan
mengikuti jalur-jalur (kurikulum) yang ditempuh oleh pesantren. Sehingga
perguruan tinggi yang ada sekarang bukan berupa UI, ITB, IPB, Unair dll, akan
tetapi mungkin namanya adalah Universitas Tebuireng, Universitas Lirboyo,
Universitas Tremas dll, kemungkinan ini bisa ditarik setelah melihat dan
membandingkan secara kasar dengan pertumbuhan sistem pendidikan di negeri
barat, dimana hampir semua universitas terkenal cikal-bakalnya adalah
perguruan-perguruan yang semula berorientasi pada keagamaan. Sebagai contoh
adalah pesantren di Amerika Serikat yang didirikan oleh pendeta Harvard di
dekat Boston, telah tumbuh menjadi sebuah universitas yang paling “prestigious”
di Amerika dan di Dunia, pendeta Harvard membangun pesantren tidak konservatif
ataupun kolot akan tetapi selalu melihat perkembangan zaman, bahkan
kepemimpinan tidak diperoleh dengan meninggalkan sama sekali jiwa
“kepesantrenanya” (dalam arti : fungsi pokok atau historis sebagai tempat
pendidikan keagamaan), di sana masih terdapat bagian-bagian yang mengajarkan
teologi, bahkan Harvard masih meneruskan peranan histiosrisnya sebagai penganut
madzhab unitarianisme.
Dengan
memperhatikan hal ini melalui momen HSN pesantren di Indonesia nantinya
diharapkan akan berkembang menjadi pusat pendidikan didunia yang melahirkan
intelektual-intelektual cerdas dan berakhlak unggul (insanul kamil).
Untuk
para santri, HSN memberikan dampak positif bagi kehidupan bermasyarakat, karena
dengan adanya HSN dari pemerintah ada pengakuan bahwa santri adalah kaum yang
berkarakter unggul yang banyak berperan membangun masyarakat, hal ini bisa
dibuktikan dengan meninjau bagaimana sejarah kemerdekaan Indonesia, khususnya
pada pertempuran 10 November karena semngat resolusi jihad, para santri tanpa
gentar mempertahankan kemerdekaan dari kolonialisme belanda. Bagi para santri
HSN merupakan moment yang tepat untuk menunjukan kepada masyarakat nusantara
bahwa santri mampu berperan untuk membangun masyarakat dan Negara.
Dibalik
penetapan HSN, ada sebuah pertanyaan yang muncul, siapa sih sebenarnya santri
itu…? dan untuk siapa sih HSN itu..? pada umunya masyarakat mengetahui bahwa
yang dinamakan santri adalah orang yang pernah mondok atau yang sedang berada
dipondok sekarang, akan tetapi pengertian tentang santri yang berkembang
dimasyarakat menyempitkan makna santri itu sendiri, padahal yang dinamakan
santri bukan hanya yang pernah mondok atau yang berada dipondok pesantren saja,
melainkan juga yang rajin ibadah, menjunjung moralitas keagamaan dalam
menjalankan berbagai aspek kehidupan, bisa diartikan santri adalah seseorang
yang selalu berpegang teguh dan konsisten pada norma agama dalam setiap
aktifitas kehidupanya.
Menurut
KH Abdurahman wahid (Gusdur) kebaikan seorang santri tidak dilihat ketika ia
berada dipondok, melainkan setelah ia menjadi alumni, kamu tinggal buktikan
hari ini, bahwa kamu adalah santri yang baik. Dengan memahami perkataan gusdur
bahwa santri yang baik itu tidak hanya ketika ia masih dalam proses
pembelajaran di pesantren, akan tetapi bukti santri yang baik adalah ketika ia
sudah terjun langsung di masyarakat dan mampu berkontribusi dan bermanfaat buat
sesama.
Untuk
lebih mengetahui makna santri, mari kita lihat pengertian santri menurut Prof
Nurcholis Madjid (Cak Nur). Pertama santri itu berasal dari kata “Sastri”,
sebuah kata dari bahasa sansekerta, yang artinya adalah melek huruf. Dengan ini
dapat dikatakan bahwa santri adalah kaum literasi yang tidak lagi buta huruf,
dahulu di era penjajah ketika banyak penduduk Indonesia yang belum bisa baca
tulis, kebanyakan santri sudah melek huruf, artinya para santri sudah dapat
membaca walaupun yang dibaca adalah teks berbahasa arab (kitab-kitab kuning yang
erat kaitanya dengan agama islam). Karena pengetahuan yang luas tentang teks
berbahasa arab ini maka kebanyakan santri adalah orang yang pandai dalam urusan
agama islam, hal ini karena agama islam turun dengan menggunakan bahasa arab.
Bisa dikatakan bahwa kaum santri adalah pakar dari penguasaan pola gramatika
bahasa arab, karena dikurikulum pesantren pembelajaran nahwu-sorof (gramatikan
bahasa arab) menjadi orientasi pembelajaran utama sebelum mereka mengembangkan
pembelajaran syariah (Fiqh). Diera modern ini santri tidak hanya melek literasi
dalam bahasa arab saja, akan tetapi penguasaan empat bahasa yaitu arab,
inggris, jepang dan mandarin juga menjadi prioritas santri dalam mengembangkan
aspek literasi untuk menjawab tantangan zaman.
Akan
tetapi perlahan-lahan karena kemajuan zaman, makna santri yang berasal dari
bahasa sansekerta yang artinya melek huruf sudah tidak relefan dengan keadaan
santri di zaman sekarang. Hal ini bisa dilihat dari berbagai alasan. Pertama
kemampuan santri dalam penguasaan literasi bahasa bahasa arab sangat menurun,
pengusaan santri akan ilmu nahwu dan sorof (gramatika arab) sangat lemah, hal
ini menjadikan kebanyakan santri dizaman sekarang kesulitan dalam memahami
kajian kitab kuning yang semuanya berbahasa arab, kecenderungan santri zaman
sekarang hanya menggunakan terjemahan. Kelemahan pengusaan santri akan
gramatika bahasa arab menjadi PR besar bagi pesantren di zaman sekarang,
walaupun seorang santri sudah lama menetap dipondok, ada yang puluhan tahun
akan tetapi banyak diantara mereka yang lemah gramatika bahasa arab dan
pengusaan fiqih, artinya menurut penulis sebagai santri yang melek huruf,
setikdanya seorang santri bisa membaca kitab kuning yang berbahasa arab dengan
semangat dan belajar bersungguh-sungguh, bukan hanya bangga dengan status
sebagai santri, saya ini Santri lo..! akan tetapi mereka lupa dengan makna
santri yang sesungguhnya yaitu moralitas dan melek huruf (bahasa arab).
Kedua,
sebenarnya kata santri berasal dari bahasa jawa yaitu “cantrik” yang artinya
seseorang yang selalu mengikuti guru kemana guru itu pergi dan menetap, dengan
tujuan dapat belajar darinya mengenai suatu keahlian. Hal ini bahwa seorang
santri adalah seseorang yang selalu istiqomah dan sendiko dawuh terhadap apa
yang dikatakan gurunya, seorang santri selalu sami’na wa atho’na terhadap apa
yang diperintahkan seorang guru, ada semacam pantangan bagi seorang santri
untuk mengatakan “tidak” apa yang diperintahkan gurunya. Pada hakekatnya
seorang santri harus bermulazamah dan terus berlajar kepada gurunya walaupun
jarak dan waktu sudah memisahkan mereka, itu artinya apa yang diperintahkan
seorang guru harus ditaati santri dimanapun ia berada, hal inilah yang
membedakan ciri santri yang baik dan tidak. Sebagai contoh Imam Abu Hanifah
yang selalu bermulazamah kepada gurunya Syeick Hammad Bin Abu Sulaiman selama
delapan belas tahun, beliau terus belajar kepadanya hingga Syeick Hammad Bin
Abu Sulaiman wafat. Dengan adanya bermulazamah kepada guru itulah yang
menyebabkan ikatan ruhani antara guru dan santri tumbuh, ikatan ruhaniyah
inilah yang menyebabkan ilmu seorang santri menjadi manfaat dan berkah, karena
pada hakekatnya keberkahan seorang guru bagi santri adalah nomer satu dan yang
utama dibanding ilmunya itu.
Keberkahan
ilmu bagi seorang santri bisa didapat dengan cara terus khidmah kepada guru,
sedangkan keluasan ilmu bisa didapat dengan semangat dan sungguh-sungguh dalam
belajar, adagium innamal barokah bilkhidmah wal ilmu bitta’alum akan selalu
menjadi pegangan seorang santri dalam menapaki kehidupan, akan tetapi bila
dilihat di zaman sekarang rasa khidmah seorang santri kepada guru sudah mulai
memudar, rasa hormat terhadap guru sudah mulai menurun. Semoga dengan moment
HSN ini semangat santri untuk khidmah kepada guru, bangsa dan Negara semakin
kuat demi kemajuan bersama.
Penulis
mengamati penetapan HSN ini menimbulkan pro kontra di masyarakat, banyak yang
menentang dan akan tetapi lebih banyak pula yang setuju. walaupun saat ini
hanya pesantren yang berafiliasi pada Nahdhotul Ulama (NU) yang merayakan
euphoria hari santri, belum semua pesantren dibawah afiliasi organisasi lain
merayakan bagaimana euphoria hari santri, akan tetapi penetapan hari santri
akan memnjadi moment kebangkitan para santri untuk menunjukan kepada masyarakat
umum bahwa santri adalah pejuang yang mampu memajukan indonesia, yang
lama-kelamaan dengan HSN ini santri dari berbagai afiliasi tersebut akan
menyatu lebur menjadi satu yaitu santri Indonesia yang menjadi kekutan baru
bagi Indonesia. inilah makna dari HSN yang sesungguhnya, sesuai pesan yang
disampaikan presiden di balik penetapan
HSN yaitu semangat menyatukan keberagaman, semangat menjadi satu untuk
Indonesia.
Semarang,
22 OKtober 2017
Ditulis Oleh:
Ahmad
Khalwani
(Ibnu
Badri)
Staf Pengajar di MTs Al Asror dan Madrasah Diniyah
Salafiyah Al Asror
Artikel Terkait:
MUNGKIN BEBERAPA ARTIKEL DIBAWAH INI ADALAH INFORMASI YANG ANDA CARI:
Islami
- HAFIDZ QUR'AN 30 JUZ JADI GAY
- KEBERANIAN NABI MUHAMMAD
- QONAAHNYA NABI MUHAMMAD DAN SEBUAH FAKTA MAKANAN KESUKAAANNYA BANYAK TUMBUH DI NUSANTARA
- KASIH SAYANG NABI TERHADAP ORANG LEMAH MENUNJUKAN PERHATIAN LEBIH TERHADAP RANAH SOSIAL BERMASYARAKAT
- KESAKSIAN ALLAH AKAN AGUNGNYA AKHLAK NABI MUHAMMAD
- KELAHIRAN NABI MUHAMMAD DAN PERTUMBUHANNYA
- SIROH NABAWIYAH BAGIAN II
- SEJARAH MAULID NABI MUHAMMAD SAW
- HUKUM DROPSHIP DALAM ISLAM
0 comments:
Post a Comment
Silahkan Tinggalkan Komentar, jangan ada spam, sara, dan pornografi. saya menghormati komentar selain itu..........:)