6 Mei 2012

Peristiwa Isro' dan Mi'roj Rasulullah SAW


Isra’ mi’raj bukanlah kisah perjalanan antariksa. Aspek astronomis sama sekali tidak ada dalam kajian Isra’ mi’raj. Namun, Isra’ mi’raj mengusik keingintahuan akal manusia untuk mencari penjelasan ilmu. Aspek aqidah dan ibadah berintegrasi dengan aspek ilmiah dalam membahas Isra’ mi’raj. Inspirasi saintifik Isra’ Mi’raj mendorong kita untuk berfikir mengintegrasikan sains dalam aqidah dan ibadah.
Mari kita mendudukkan masalah Isra’ mi’raj sebagai mana adanya yang diceritakan di dalam Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. Kemudian sekilas kita ulas kesalahpahaman yang sering terjadi dalam mengaitkan Isra’ mi’raj dengan kajian astronomi. Hal yang juga penting dalam mengambil hikmah peringatan Isra’ mi’raj adalah menggali inspirasi saintifik yang mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah.

Kisah dalam Al-Qur’an dan Hadits
Di dalam QS. Al-Isra’:1 Allah menjelaskan tentang Isra’:  “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dan tentang mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:  “Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada surga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.
Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan mi’raj dijelaskan di dalam hadits-hadits nabi. Dari hadits-hadits yang shahih, didapati rangkaian kisah-kisah berikut. Suatu hari malaikat Jibril datang dan membawa Nabi, lalu dibedahnya dada Nabi dan dibersihkannya hatinya, diisinya dengan iman dan hikmah.
Kemudian didatangkan Buraq, ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Dengan Buraq itu Nabi melakukan Isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Nabi SAW shalat dua rakaat di Baitul Maqdis, lalu dibawakan oleh Jibril segelas khamr (minuman keras) dan segelas susu; Nabi SAW memilih susu. Kata malaikat Jibril, “Engkau dalam kesucian, sekiranya kau pilih khamr, sesatlah umat engkau.”
Dengan Buraq pula Nabi SAW melanjutkan perjalanan memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang di kanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia:  sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan umat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.
Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh-sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Aku telah meminta keringanan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardhu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku.”
Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma’mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian-kejadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (zhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan jasad fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga. Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mukmin semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.
“Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia”. Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi  manusia….” (QS. 17:60).
“Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai aku (kata Nabi SAW), aku berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, aku dapatkan apa yang aku inginkan dan aku jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, aku memperhatikannya….” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).
Hakikat Tujuh Langit
Peristiwa Isra’ mi’raj yang menyebut-nyebut tujuh langit mau tak mau mengusik keingintahuan kita akan hakikat langit, khususnya berkaitan dengan tujuh langit yang juga sering disebut-sebut dalam Al-Qur’an.  Bila kita dengar kata langit, yang terbayang adalah kubah biru yang melingkupi bumi kita. Benarkah yang dimaksud langit itu lapisan biru di atas sana dan berlapis-lapis sebanyak tujuh lapisan?
Warna biru hanyalah semu, yang dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh partikel-partikel atmosfir. Langit (samaa’ atau samawat) berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda langit sama sekali tidak ada.
Bilangan ‘tujuh’ sendiri dalam beberapa hal di Al-Qur’an  tidak  selalu menyatakan  hitungan  eksak  dalam  sistem desimal. Di dalam Al-Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu  pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al-Baqarah:261 Allah menjanjikan: “Siapa  yang  menafkahkan  hartanya di  jalan  Allah  ibarat  menanam  sebiji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai  yang masing-masingnya     berbuah    seratus    butir. Allah  melipatgandakan pahala orang-orang yang dikehendakinya….” Juga di dalam Q.S. Luqman:27: “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai  pena dan  lautan  menjadi tintanya dan  ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….” Jadi  ‘tujuh langit’ lebih mengena bila  difahamkan  sebagai  tatanan  benda-benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.
Lalu, apa hakikatnya langit dunia, langit ke dua, langit ke tiga, … sampai langit ke tujuh dalam kisah Isra’ mi’raj?  Mungkin ada orang mengada-ada penafsiran, mengaitkan dengan astronomi. Para penafsir dulu ada yang berpendapat bulan di langit pertama,  matahari di langit ke empat, dan planet-planet lain di lapisan lainnya. Kini ada sembilan planet yang sudah diketahui, lebih dari tujuh. Tetapi, mungkin masih ada orang yang ingin mereka-reka. Kebetulan, dari jumlah planet yang sampai saat ini kita ketahui, dua planet dekat matahari (Merkurius dan Venus), tujuh lainnya –termasuk bumi– mengorbit jauh dari matahari.
Pengertian langit dalam kisah Isra’ mi’raj bukanlah  pengertian langit secara fisik. Karena, fenomena yang diceritakan Nabi pun bukan fenomena fisik, seperti perjumpaan dengan para Nabi yang hakikatnya telah wafat. Langit dan Sidratul Muntaha dalam kisah Isra’ mi’raj adalah alam ghaib yang tak bisa kita ketahui hakikatnya dengan keterbatasan ilmu manusia. Hanya Rasulullah SAW yang berkesempatan mengetahuinya. Isra’ mi’raj adalah mukjizat yang hanya diberikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Perjalanan Keluar Dimensi Ruang Waktu
Isra’ mi’raj jelas bukan perjalanan seperti dengan pesawat terbang antarnegara dari Mekkah ke Palestina dan penerbangan antariksa dari Masjidil Aqsha ke langit ke tujuh lalu ke Sidratul Muntaha. Isra’ Mi’raj adalah perjalanan keluar dari dimensi ruang waktu. Tentang caranya, iptek tidak dapat menjelaskan. Tetapi bahwa Rasulullah SAW melakukan perjalanan keluar ruang waktu, dan bukan dalam keadaan mimpi, adalah logika yang bisa menjelaskan beberapa kejadian yang diceritakan dalam hadits shahih. Penjelasan perjalanan keluar dimensi ruang waktu setidaknya untuk memperkuat keimanan bahwa itu sesuatu yang lazim ditinjau dari segi sains, tanpa harus mempertentangkannya dan menganggapnya sebagai suatu kisah yang hanya dapat dipercaya saja dengan iman.
Kita hidup di alam yang di batas oleh dimensi ruang-waktu (tiga dimensi ruang –mudahnya kita sebut panjang, lebar, dan tinggi –, serta satu dimensi waktu ). Sehingga kita selalu memikirkan soal jarak dan waktu. Dalam kisah Isra’ mi’raj, Rasulullah bersama Jibril dengan wahana “Buraq” keluar dari dimensi ruang, sehingga dengan sekejap sudah berada di Masjidil Aqsha. Rasul bukan bermimpi karena dapat menjelaskan secara detail tentang masjid Aqsha dan tentang kafilah yang masih dalam perjalanan. Rasul juga keluar dari dimensi waktu sehingga dapat menembus masa lalu dengan menemui beberapa Nabi. Di langit pertama (langit dunia) sampai langit tujuh berturut-turut bertemu (1) Nabi Adam, (2) Nabi Isa dan Nabi Yahya, (3) Nabi Yusuf, (4) Nabi Idris, (5) Nabi Harun, (6) Nabi Musa, dan (7) Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW juga ditunjukkan surga dan neraka, suatu alam yang mungkin berada di masa depan, mungkin juga sudah ada masa sekarang sampai setelah kiamat nanti.
Sekadar analogi sederhana perjalanan keluar dimensi ruang waktu adalah seperti kita pergi ke alam lain yang dimensinya lebih besar. Sekadar ilustrasi, dimensi 1 adalah garis, dimensi 2 adalah bidang, dimensi 3 adalah ruang. Alam dua dimensi (bidang) dengan mudah menggambarkan alam satu dimensi (garis). Demikian juga alam tiga dimensi (ruang) dengan mudah menggambarkan alam dua dimensi (bidang). Tetapi dimensi rendah tidak akan sempurna menggambarkan dimensi yang lebih tinggi. Kotak berdimensi tiga tidak tampak sempurna bila digambarkan di bidang yang berdimensi dua.
Sekarang bayangkan ada alam berdimensi dua  (bidang) berbentuk U. Makhluk di alam “U” itu bila akan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya perlu menempuh jarak jauh. Kita yang berada di alam yang berdimensi lebih tinggi dengan mudah memindahkannya dari satu ujung ke ujung lainnya dengan mengangkat makhluk itu keluar dari dimensi dua, tanpa perlu berkeliling menyusuri lengkungan “U”.
Alam malaikat (juga jin) bisa jadi berdimensi lebih tinggi dari dimensi ruang waktu, sehingga bagi mereka tidak ada lagi masalah jarak dan waktu. Karena itu mereka bisa melihat kita, tetapi kita tidak bisa melihat mereka. Ibaratnya dimensi dua tidak dapat menggambarkan dimensi tiga, tetapi sebaliknya dimensi tiga mudah saja menggambarkan dimensi dua. Bukankah isyarat di dalam Al-Quran dan Hadits juga menunjukkan hal itu. Malaikat dan jin tidak diberikan batas waktu umur, sehingga seolah tidak ada kematian bagi mereka. Mereka pun bisa berada di berbagai tempat karena tak di batas oleh ruang.
Rasulullah bersama Jibril diajak ke dimensi malaikat, sehingga Rasulullah dapat melihat Jibril  dalam bentuk aslinya (baca QS 53:13-18). Rasul pun dengan mudah pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, tanpa terikat ruang dan waktu. Langit dalam konteks Isra’ Mi’raj pun bukanlah langit fisik berupa planet atau bintang, tetapi suatu dimensi tinggi. Langit memang bermakna sesuatu di atas kita, dalam arti fisik maupun non-fisik.
Sains Terintegrasi dengan Aqidah dan Ibadah
Bagaimanapun ilmu manusia tak mungkin bisa menjabarkan hakikat perjalanan Isra’ mi’raj. Allah hanya memberikan ilmu kepada manusia sedikit sekali (QS. Al-Isra: 85). Hanya dengan iman kita mempercayai bahwa Isra’ mi’raj benar-benar terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rupanya, begitulah rencana Allah menguji keimanan hamba-hamba-Nya (QS. Al-Isra:60) dan menyampaikan perintah shalat wajib secara langsung kepada Rasulullah SAW.
“…dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: ‘Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia’ dan Kami tidak menjadikan penglihatan (saat Isra’ mi’raj) yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia …”
Pemahaman dengan pendekatan konsep ekstra dimensi sekadar pendekatan sains untuk merasionalkan konsep aqidah terkait Isra’ mi’raj, walau belum tentu tepat. Tetapi upaya pendekatan saintifik sering dipakai sebagai dalil aqli (akal) untuk memperkuat keyakinan dalam aqidah Islam. Sains seharusnya tidak kontradiktif dengan aqidah dan aqidah bukan hal yang bersifat dogmatis semata, tetapi memungkinkan dicerna dengan akal. Mengintegrasikan sains dalam memahami aqidah dapat menghapuskan dikotomi aqidah dan sains, karena Islam mengajarkan bahwa kajian sains tentang ayat-ayat kauniyah tak terpisahkan dari pemaknaan aqidah.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 3:190-191).
Pada sisi lain Isra’ mi’raj mengajarkan makna mendalam dalam hal ibadah. Makna penting Isra’ mi’raj bagi umat Islam ada pada keistimewaan penyampaian perintah shalat wajib lima waktu. Ini menunjukkan kekhususan shalat sebagai ibadah utama dalam Islam. Shalat mesti dilakukan oleh setiap Muslim, baik dia kaya maupun miskin, dia sehat maupun sakit. Ini berbeda dari ibadah zakat yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara ekonomi, atau puasa bagi yang kuat fisiknya, atau haji bagi yang sehat badannya dan mampu keuangannya.
Shalat lima kali sehari semalam yang didistribusikan di sela-sela kesibukan aktivitas kehidupan, mestinya mampu membersihkan diri dan jiwa setiap Muslim. Allah mengingatkan:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab  (Al  Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat  Allah  (shalat) adalah  lebih  besar  (keutamaannya  dari  ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut:45).
Isra’ dan mi’raj juga memberikan inspirasi untuk merenungi makna ibadah shalat, termasuk aspek saintifiknya. Umat Islam telah membuktikan bahwa sains pun bisa diintegrasikan dalam urusan ibadah, untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah. Demi kepentingan ibadah shalat, umat Islam mengembangkan ilmu astronomi atau ilmu falak untuk penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Tuntutan ibadah mendorong kemajuan sains astronomi pada awal sejarah Islam. Kini astronomi telah menjadi alat bantu utama dalam penentuan arah kiblat dan waktu shalat. Konsepsi astronomi bola digunakan untuk penentuan arah kiblat. Perhitungan posisi matahari digunakan untuk mencari waktu istimewa dalam penentuan arah kiblat dan jadwal shalat harian. Kita cukup melihat jadwal shalat, tidak lagi direpotkan harus melihat langsung fenomena cahaya matahari atau bayangannya setiap akan shalat. Kini semua umat Islam Indonesia, apa pun ormasnya, secara umum bisa bersepakat dengan kriteria astronomis dalam penyusunan jadwal shalat.
Inspirasi pemanfaatan sains dalam ibadah juga diperluas untuk ibadah-ibadah lainnya terkait dengan penentuan waktu. Penentuan awal Ramadhan dan hari raya kini sudah banyak memanfaatkan pengetahuan astronomi atau ilmu falak, baik untuk keperluan perhitungannya (hisab) maupun untuk pengamatannya (rukyat). Penentuan awal Ramadhan atau hari raya yang kadang berbeda saat ini bukan lagi disebabkan oleh perbedaan metode hisab dan rukyat, tetapi lebih disebabkan oleh perbedaan kriteria astronomisnya. Alangkah indahnya kalau pelajaran kesepakatan kriteria astronomis dalam penentuan jadwal shalat juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadhan dan hari raya sehingga potensi perbedaan dapat dihilangkan. Tanpa kesepakatan kriteria itu, tahun ini dan beberapa tahun ke depan kita akan menghadapi lagi persoalan perbedaan awal Ramadhan dan hari raya.
Upaya menuju titik temu kriteria astronomi sudah mulai dilakukan. Tinggal selangkah lagi kita bisa mendapatkan kriteria hisab rukyat Indonesia yang mempersatukan umat. Isra’ mi’raj pun mengajarkan upaya menuju “titik temu” menurut cara pandang manusiawi antara Allah dan Rasulullah terkait dengan jumlah shalat wajib yang semula 50 kali menjadi 5 kali sehari semalam. Satu sisi itu menunjukkan kemurahan Allah, tetapi pada sisi lain kita bisa mengambil pelajaran bahwa kompromi untuk mencapai titik temu adalah suatu keniscayaan. Kita tidak boleh memutlakkan pendapat kita seolah tidak bisa berubah, termasuk untuk mencapai titik temu. Kriteria astronomis hisab rukyat juga bukan sesuatu yang mutlak, mestinya bisa kita kompromikan untuk mendapatkan kesepakatan ada ketenteraman dalam beribadah shaum Ramadhan dan ibadah yang terkait dengan hari raya (zakat fitrah, shalat hari raya, Shaum di bulan Syawal,  shaum Arafah)
Isra’ mi’raj memberikan inspirasi mengintegrasikan sains dalam memperkuat aqidah dan menyempurnakan ibadah, selain mengingatkan pentingnya shalat lima waktu.

www.dakwatuna.com


16 Maret 2012

ID SURVEY MANTABBB

Pertama kali membuka, ne bisnis apa ya...??? Q masih berfikir beribu2 kali untuk ikut... Maklum aja, programnya ga gratis sih…hehe
Ahh... coba daftar dulu aja ah...:D

Pertama Q baca2 dikit....^_^


TENTANG IDSURVEI.COM
Idsurvei.com merupakan program mengumpulkan data dari pengguna internet melalui survei singkat. Data-data hasil survei tersebut digunakan untuk menentukan target market yang tepat dalam berbisnis online.
Kami membutuhkan bantuan Anda untuk menyebarkan formulir survei singkat. Setiap survei yang datang dari link Anda akan dibayar Rp 2.000,00. Tidak ada batasan berapa data yang dapat Anda hasilkan perhari. Agar lebih jelas, lihat ilustrasi dibawah ini:
Survei Per Hari
Komisi Per Survei
Komisi Yang diterima
10
Rp 2.000,00
Rp 20.000,00 Per hari
100
Rp 2.000,00
Rp 200.000,00 Per hari
1000
Rp 2.000,00
Rp 2.000.000,00 Per hari
Tidak dibatasi
Rp 2.000,00
Tidak dibatasi

Idsurvei.com bukanlah program member get member, sehingga pekerjaan Anda bukanlah mencari orang/member. Cukup dengan menyebarkan "Formulir Survei", dan setiap formulir yang diisi oleh orang lain, Maka Rp 2.000,00 langsung masuk ke akun Anda. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menjalankan petunjuk yang ada. Namun program ini tidak gratis, dengan membayar uang sebesar Rp. 100.000, anda baru bisa mengakses member area dan segera dapat menjalankan program ini.
Segera daftarkan diri Anda sekarang juga karena kuota keanggotaan idsurvei.com terbatas.

OOOO, begitu tho bisnisnya, kayak gitu to sistem kerjanya...:)
Tapi pikiran masih belum berkata ikut. Q masih penasaran nih. SCAM gak YA...?????
Coba cari-cari info di mbah Google, ternyata banyak yang bilang idsurvei.com gak SCAM.

Akhirnya dengan memberanikan diri, aku mentransfer sejumlah uang untuk mengaktifkan keanggotaanQ yang belum aktif meskipun telah mendaftar. Hebatnya, hanya perlu waktu 1-2 jam untuk menunggu keanggotaan aktif setelah konfirmasi pembayaran. Wah, enak banget.  Tanpa pikir panjang Q langsung mulai kerja...^_^
Kalau penasaran atau masih bingung, silakan menuju websitenya aja! klik disini

Beberapa hari kemudian udah dapet pendapatan, tambah semangat deh...hehe

Contoh alamat Link Url yang di sebar adalah:
*Mohon kesediaannya untuk mengisi form survey dari link diatas, terima kasih…^_^

Catatan (dari websitenya):
Tugas Anda hanyalah menyebarkan Link Url Anda agar Anda mendapatkan data survei dari pengguna internet. Setiap ada data yang masuk dan disetujui maka Rp 2.000,00 langsung masuk ke akun Anda.
Kami akan mentransfer pendapatan Anda apabila telah mencapai batas payout (batas minimal pengiriman) yaitu Rp 200.000,00 pada pertengahan bulan antara tanggal 14,15, dan 16 setiap bulan.
Apabila pada tanggal payout namun pendapatan Anda masih dibawah minimal (dibawah Rp 200.000,00) maka pendapatan Anda akan diakumulasikan dengan periode payout berikutnya. Artinya pendapatan Anda tidak akan hangus/hilang sampai Anda mencapai payout.


7 Maret 2012

HUKUM MERAYAKAN MAULID NABI MUHAMMAD

Peringatan Maulid Nabi محمد sallallahu`alaihi wasallam yang dirayakan dengan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur’an dan menyebutkan sebagian sifat-sifat nabi yang mulia, ini adalah perkara yang penuh dengan berkah dan kebaikan kebaikan. Tentu jika perayaan tersebut terhindar dari bid’ah-bid’ah sayyiah yang tidak sesuai dengan aturan syara’.
Perayaan Maulid Nabi mulai dilakukan pada permulaan abad ke 7 Hijriah. Ini bererti perbuatan ini tidak pernah dilakukan oleh رسول الله sallallahu`alaihi wasallam, para sahabat dan generasi Salaf. Namun demikian, tidak berarti hukum perayaan Maulid Nabi dilarang atau sesuatu yang haram. Karena segala sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh رسول الله sallallahu`alaihi wasallam atau tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya belum tentu bertentangan dengan ajaran رسول الله sallallahu`alaihi wasallam sendiri. Para ulama’ menyatakan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah sebagian daripada bidah hasanah (yang baik). Artinya bahwa perayaan Maulid Nabi ini merupakan perkara baru tetapi ia selaras dengan al-Qur’an dan hadist-hadist Nabi dan sama sekali tidak bertentangan dengan keduanya.



Dalil-Dalil mengenai Peringatan Maulid Nabi
1.     Peringatan Maulid Nabi masuk dalam anjuran hadist nabi untuk membuat sesuatu yang baru yang baik dan tidak menyalahi syari`at Islam. رسول الله sallallahu`alaihi wasallam bersabda:
مَنْ سَنَّ فيِ اْلإِسْـلاَمِ سُنَّةً حَسَنـَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ”. (رواه مسلم في صحيحه)”.
Artinya:
“Barang siapa yang melakukan (merintis) dalam Islam sesuatu perkara yang baik maka ia akan mendapatkan pahala daripada perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya selepasnya, tanpa dikurangkan pahala mereka sedikitpun”. (Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya).
Faedah daripada Hadist tersebut:
Hadist ini memberikan kelonggaran kepada ulama’ ummat Nabi محمد sallallahu`alaihi wasallam untuk melakukan perkara-perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an, al-Sunnah, Atsar (peninggalan) maupun Ijma` ulama’. Peringatan maulid Nabi adalah perkara baru yang baik dan sama sekali tidak menyalahi satu-pun di antara dalil-dalil tersebut. Dengan demikian bererti hukumnya Ja’iz/Boleh, bahkan salah satu jalan untuk mendapatkan pahala. Jika ada orang yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi, berarti ia telah mempersempit kelonggaran yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang belum pernah ada pada zaman Nabi.
2.    Dalil-dalil tentang adanya Bid`ah Hasanah yang telah disebutkan dalam pembahasan mengenai Bid`ah.
3.    Hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Diriwayatkan bahwa ketika رسول الله tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram). رسول الله bertanya kepada mereka: “Untuk apa mereka berpuasa?” Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari ditenggelamkan Fir’aun dan diselamatkan Nabi Musa, dan kami berpuasa di hari ini adalah karena bersyukur kepada Allah”. Kemudian رسول الله sallallahu`alaihi wasallam bersabda:
أَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ”.
Artinya:
“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (orang-orang Yahudi)”.
Lalu رسول الله sallallahu`alaihi wasallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat baginda untuk berpuasa.
Faedah daripada Hadist tersebut:
Pengajaran penting yang dapat diambil daripada hadist ini ialah bahwa sangat dianjurkan untuk melakukan perbuatan bersyukur kepada Allah pada hari-hari tertentu atas nikmat yang Allah berikan pada hari-hari tersebut. Sama saja melakukan perbuatan bersyukur karena memperoleh nikmat atau karena diselamatkan dari bahaya. Kemudian perbuatan syukur tersebut diulang pada hari yang sama di setiap tahunnya. Bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai bentuk ibadah, seperti sujud syukur, berpuasa, sedekah, membaca al-Qur’an dan sebagainya. Bukankah kelahiran رسول الله sallallahu`alaihi wasallam adalah nikmat yang paling besar bagi umat ini?!
Adakah nikmat yang lebih agung daripada dilahirkannya رسول الله?! Adakah nikmat dan karunia yang lebih agung daripada kelahiran رسول الله yang menyelamatkan kita dari jalan kesesatan?! Demikian inilah yang telah dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-`Asqalani.
4.    Hadits riwayat al-Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Bahawa رسول الله sallallahu`alaihi wasallam ketika ditanya mengapa beliau puasa pada hari senin, beliau menjawab:
ذلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ”.
Artinya:
“Hari itu adalah hari dimana aku dilahirkan”. (Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)
Faedah daripada Hadist tersebut:
Hadist ini menunjukkan bahawa رسول الله sallallahu`alaihi wasallam melakukan puasa pada hari senin karena bersyukur kepada Allah, bahwa pada hari itu baginda dilahirkan. Ini adalah isyarat daripada رسول الله sallallahu`alaihi wasallam, artinya jika baginda berpuasa pada hari senin karena bersyukur kepada Allah atas kelahiran baginda sendiri pada hari itu, maka demikian pula bagi kita sudah selayaknya pada tanggal kelahiran رسول الله sallallahu`alaihi wasallam tersebut untuk kita melakukan perbuatan syukur, misalkan dengan membaca al-Qur’an, membaca kisah kelahiran baginda, bersedekah, atau melakukan perbuatan baik lainnya. Kemudian, oleh karena puasa pada hari senin diulangi setiap minggunya, maka bererti peringatan maulid juga diulangi setiap tahunnya. Dan karena hari kelahiran رسول الله sallallahu`alaihi wasallam masih diperselisihkan oleh para ulama’ mengenai tanggalnya, -bukan pada harinya-, maka boleh saja jika dilakukan pada tanggal 12, 2, 8, atau 10 Rabi’ul Awwal atau pada tanggal lainnya. Bahkan tidak menjadi masalah bila perayaan ini dilaksanakan dalam sebulan penuh sekalipun, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh al-Hafizh al-Sakhawi.


5 Maret 2012

KISAH INSPIRATIF SANG SOHIBUL MENARA

Alhamdulillah segala puji bagi allah, dzat yang telah memberikan segala bentuk kenikmatan, yang telah memberikan cerita-cerita masa lalu sebagai bahan motivasi bagi umat sesudahnya. sesuai dengan judulnya, kisah inspiratif sang sohibul menara, cerita yang begitu memberi motivasi bagi anak-anak muda indonesia. kisah nyata yang dituangkan dalam bentuk novel karangan Ahmad Fuadi ini memang layak dijadikan pelecut semangat kita terkhusus pemuda indonesia yang ingin menggapai ciita-cita setinggi-tingginya.

          Kisah yang menceritakan tentang perjuangan para sohibul menara, 6 anak dengan latar belakang berbeda yang memiliki keteguhan dalam mengejar mimpi yang tinggi, stinggi menara di sampiing masjid jami’ pondok pesantren madani modern, gontor jawa timur.
          Mereka terlecut oleh sebuah mantra sakti yang disampaikan oleh guru mereka pada hari pertama mereka menuntut ilmu di tempat itu, “من جد وجد--- Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil---. Dalam kenyataan mereka telah membuktikan kedahsyatan mantra sakti itu dalam kehidupan mereka.


Memang pada dasarnya sebuah kesuksesan tidak akan diraih tanpa adanya kerja keras dan kesungguhan, tak dapat dipetik hanya dengan berpangku tangan tanpa berbuat sesuatu. “Allah tidak akan mengubah nasib sebuah kaum sampai mereka mau merubah nasib mereka sendiri”, itulah sebabnya tidak ada orang yang sukses yang hanya menunggu datangnya pemberian tuhannya, tapi semuanya berproses panjang yang akhirnya memberikan hasil sesuai dengan usahanya. الاجر بقدر التعب”---Hasil itu sesuai dengan kerja kerasnya---.

Perbedaan mendasar antara orang yang sukses dan tidak sukses adalah kerja kerasnya. Jika kita ingin sukses, maka bekerjalah melebihi apa yang diprbuat oleh orang lain--- اعملوا فوق ما عملوا---Singkatnya, jika kita adalah seorang petinju yang ingin sukses, maka kita harus berlatih 5 kali sehari jika petinju lain berlatih 3 kali sehari, begitu juga jika petinju lain berlatih 5 kali sehari, kita harus berlatih 7 kali sehari, begitu seterusnya. Sederhana namun penuh makna.^_^

Kita hanya perlu sedikit bekerja lebih keras dari yang lain, ya....sedikit lebih keras, karena perbedaan sedikit itulah tak jarang lahir para juara sejati. Para juara dunia pelari misalnya, hanya terpaut 0,0 sekian detik dari rivalnya, para juara renangpun demikian, juga para juara-juara yang lain. Itulah perbedaan sedikit yang berpengaruh besar, apalagi jika bisa bekerja lebih, lebih dan lebih lagi, tak terelakkan kesuksesan berada di pelupuk mata kita.

Demikian prinsip yang diterapkan para sohibul menara, terutama Alif Fikri, dalam perjuangan menuju mimpi-mimpi mereka. Hingga pada akhirnya, kerja keras mereka terbayar tuntas. Impian-impian yang dulu tergantung di atas menara kini menjadi bagian dari kisah hidupnya. Itulah yang menyebabkan novel ini menjadi sumber inspirasi, khususnya bagi penulis.

Memang sebenarnya sangat terlambat untuk menulis tentang novel ini, tapi lebih baik terlambat dari pada sama sekali tidak. Bagi sobat-sobat yang sudah membaca novel ini, semoga bisa mengambil sebuah inspirasi dan pelajaran berharga dari novel karangan A. Fuadi tersebut. Dan bagi teman-teman yang belum membacanya, sangat disarankan untuk membacanya.^_^

Pada intinya, jangan pernah takut untuk meggantung mimpi-mimpi kita setinggi-tingginya, kemudian lakukan upaya melebihi upaya orang lain, dan tawakal kepada dzat yang maha memberi, itulah kunci kesuksesan yang sejati. Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki  tekad kuat dalam usaha menggapai mimpi-mimpi kita.............Amiin.....^_^

20 Februari 2012

ADAB/TATA KRAMA BUANG HAJAT

Bismillah Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama Islam dengan menghiasinya Bimakaarimil Akhlak (Akhlak Terpuji). Sekali lagi penulis menegaskan bahwasanya tidak ada hal apapun dalam Islam kecuali telah diatur segala macam tata caranya. Satu-satunya agama sempurna yang telah Allah ridhoi bagi seluruh umat manusia di penjuru dunia fana ini.

          Lagi-lagi Islam menaruh perhatiannya pada hal-hal yang terlihat sepele, seperti tata krama ketika kita berada dalam kakus atau kamar mandi. Dalam hal ini penulis mengambil sebuah referensi kitab salaf bertajuk “Bidayatul Hidayah” karya seorang ulama besar yang juga pengarang kitab Rujukan termasyhur sampai saat ini “Ihya ‘Ulumuddin” yaitu Al-Imam Al-‘Alamah Syekh Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali.

          Dalam kitab setebal 103 halaman tersebut dijelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa ketika seseorang berada dalam kamar mandi, hendaknya memperhatikan beberapa adab atau etika sebagai berikut :
  1) Ketika masuk ke dalam kamar mandi, mendahulukan kaki kiri, dan ketika keluar mendahulukan kaki kanan.
2)              2)  Jangan membawa barang-barang apapun yang di barang tersebut tertulis Asma      Allah dan Rasulullah.
3)       3) Jangan masuk dalam keadaan kepala terbuka dan dalam keadaan tidak memakai alas    kaki.
4)    Berdo’a sebelum masuk dalam kamar mandi dengan do'a :
الْخَبَائِثِ وَ الْخُبُثِ مِنَ أَعُوْذُبِكَ إِنِّي اللَّهُمَّ
     dan saat keluar darinya dengan do'a: غُفْرَانَكَ
 5) Menuntaskan segala apa yang menjadi hajat, setelah buang air kecil hendaknya tangan kiri memperlakukan hasafah (alat kelamin) sebanyak 3 kali agar semua urinnya keluar.
Itulah adab ketika kita  berada dalam kamar mandi, sedangkan ketika kita berada diantara tanah lapang dan hendak buang hajat maka ada beberapa hal yang hendaknya dihindari, yaitu:
1)    Hindari dari penglihatan orang lain dengan cara menutup dengan sesuatu yang dapat digunakan untuk menutup.
2)   Jangan membuka aurat sebelum sampai pada keadaan duduk.
3)   Jangan menghadap dan membelakangi matahari, bulan, dan kiblat.
4)   Jangan bercakap-cakap dengan orang lain selagi buang hajat.
5)   Jangan buang hajat di air yang tenang (tidak mengalir), dibawah pohon yang berbuah dan di lubang.
6)   Dan jangan buang hajat (kencing) melawan arus angin karena ditakutkan akan terkena najis dari percikan air kencingnya. Perlu diketehui bahwa menurut Rasulullah kebanyakan orang disiksa dalam kubur karena tidak bisa menjaga air kencingnya (percikannya).
Itulah adab-adab/ tata krama seorang yang hendak buang hajat. Semoga kita semua dapat mengamalkan apa yang telah dijelaskan dalam kitab Bidayatul Hidayah tersebut.
Tak hanya dalam kitab tersebut, banyak kitab-kitab salaf (biasa dikenal dengan kitab Gundul/ kitab Kuning) yang juga menerangkan adab-adab ketika hendak buang hajat yang tak lain referensi para ulama dalam mengarang kitab-kitab tersebut adalah berasal dari Baginda Rasulullah, makhluk paling terpuji akhlaknya, paling santun tingkahnya serta paling indah tutur katanya. Dalam segala aspek kehidupan, Rasul telah mencontohkannya melalui perilakunya yang dengan jelas Allah pun memujinya dalam Al-Qur’an: “Benar-benar nyata dalam diri Rasulullah itu ada suri tauladan yang baik bagi orang-orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir (Al-Ayat)”. Telah nyata lah bahwa segala apapun yang ada dalam diri Rasulullah adalah sebuah cerminan sempurnanya Akhlak Manusia.
Maka dari itulah kita yang mengaku sebagai umatnya, hendaknya sedikit demi sedikit mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah, meskipun sulit mencapai tingkatan akhlak seperti rasulullah, setidaknya ada upaya kita untuk Ittiba’ /mengikuti Rasulullah, sehingga kelak di Akhirat kita benar-benar menjadi orang-orang yang diakui oleh Beliau sebagai orang-orang yang akan menerima Syafaatul Udhma beliau di hari dimana tidak ada Syafaat/ pertolongan yang dapat menolong kita kecuali Syafaat Beliau….Amin Amin Yaa Robbal ‘Aalamiina.

Wallahu A’lamu…………………