8 Desember 2017

KEBERANIAN NABI MUHAMMAD

Kajian 7

Oleh Ibnu Badri (26/11/2017)

Pada kesempatan kali ini penulis ingin melanjutkan kajian mengenai kitab Irsyadul Mukminin karya KH Hasyim Asy’ari, pada pasal keberanian Nabi Muhammad, KH Hasyim Asy’ari menerangkan bahwasanya Nabi Muhammad adalah orang paling pemberani diantara para para pemberani, Nabi Muhammad tidak pernah takut mati untuk menegakan agama yang diridhoi oleh Allah, oleh karena itu Nabi selalu mengikuti peperangan selama ia hidup, tidak pernah didengar kabar walaupun sekali mengenai Nabi Muhammad yang berniat untuk terlambat untuk mengikuti perang, niat terlambat untuk mengikuti perang pun tidak pernah telintas dipikiran Nabi apalagi niat untuk tidak mengikuti perang. Nabi selalu berada diposisi terdepan untuk memimpin pasukan menghadapi musuhnya. Dan dalam setiap peperangan pasti ada sosok pahlawan yang tangguh dan gagah memukul musuhnya dengan semangat dan keberanian yang membara. Diceritakan suatu hari ali bin abi tolib beserta sebagian sahabat Nabi, merasa ketakutan dan berputus asa dalam menghadapi musuhnya,serta memerah sorot mata sahabat ali dan sebagian sahabatnya karena semakin terpojok, kemudian mereka berlindung kepada Nabi Muhammad, dan posisi Nabi Muhammad sangat dekat dengan musuhnya.Diceritakan juga ketika sahabat jabir bin Abdullah bersama Nabi Muhammad dalam perang Dhaturiqog, sesampainya kami dibawah pohon yang rindang, ia dan Nabi beristirahat sebentar dibawah pohon tersebut dengan posisi pedang Nabi digantungkan diatas pohon, tiba-tiba datang laki-laki musrik seraya menghunus pedangnya dihadapan Nabi, kemudian laki-laki tersebut bertanya kepada Nabi, apakah engkau takut,,? tidak jawab Nabi dengan tegas. Siapa yang membuatmu tidak takut mengadapiku? Nabi menjawab "Allah".



Perlu diketahui juga bahwasanya peperangan yang diikuti Nabi Muhammad bersifat defensif bukan agresif. Semua perang yang diikuti Nabi Muhammad itu sebagai reaksi dari serangan kafir qurais. Jadi perang yang diikuti Nabi bukanlah untuk menyebut sebuah system pemerintahislamyang didirikan atas jihad, karena perang yang diikuti rosulullah pada hakekatnya adalah fase dari beberapa fase dakwahnya Nabi, seperti fase awal dakwah adalah sembunyi-sembunyi, kemudian secara terang-terangan dan seterusnya. Berdasarkan hadist dan beberapa atsar bahwasanya perintah perang turun setelah Nabi Muhammd melakukan hijrah, namun perintah ini baru benar-benar dilaksnakan pada bulan shofar, satu tahun setelah rasulullah tiba dikota madinah. Pada waktu itu Nabi berniat keluar rumah untuk mengikuti perang yang pertama. Perang sebenarnya tidak benar-benar meletus, karena yang harusnya terjadi peperangan antara umat islam dengan pasukan qurais dan bani hamzah, ternyata berakhir denga perjanjian damai, rosulullah pun batal berperang dan kembali bersama sahabat ke kota madinah. Keberanian itu bukan hanya untuk perang melawan musuh akan tetapi keberanin sejati adalah keberanian untuk melawan hawa nafsunya, hal ini seperti yang disabdakan Nabi Muhammad,
“Kita telah kembali dari perang kecil menuju perang yang lebih besar, yaitu perang melawan hawa nafsu”.

Ya benar hawa nafsu adalah suatu yang harus diperangi dan dikalahkan. Karena hawa nafsu selalu mengajak kepada kemungkaran. Suatu malam penulis mendengar nasehat dari ustad Sukri, beliau berkata orang zaman sekarang ini aneh, orang zaman sekarang takut mati, akan tetapi kalau hidup takut menghadapi masa depan, orang zaman sekarang miskin keyakinan kepada Allah, Allah yang telah menghidupkan maka Allah pulalah yang akan menjaminnya. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita selalu yakin, optimis serta penuh keberanian untuk menghadapi kehidupan ini dengan satu tujuan, yaitu mencari ridho Allah semata bukan untuk mencari harta benda serta pangkat dunia.

Para bijak bestari juga berkata, kita harus lebih berani melawan diri sendiri dari pada melawan orang lain. Taklukanlah diri sendiri sebelum engkau menaklukan dunia. Kalau penulis amati sebenarnya runtutan sebuah kesuksesan adalah adanya keberanian dalam hati yang mendorong seseorang untuk bergerak mencapai apa yang diinginkan, dan tidak akan kembali sampai ia mendapatkan apa yang diinginkan, keberanian mendorong sesorang untuk menguasai sesuatu sampai ia bertemu dengan sebuah kesulitan dan ia mampu mengatasinya bukan malah menyerah dan putus asa.

Perlu diketahui juga bahwasanya yang dinamakan keberanian itu tidak harus selalu melangkah maju, maju dan maju akan tetapi maju sekiranya mempunyai kemantapan hati untuk maju, dan mundur sekiranya hati mempunyai keyaqinan untuk mundur. Jadi untuk maju kedapan kita butuh yang namanya keberanian dan pertimbangan. Jadi bisa dikatakan keberanian adalah batas tengan antara takut dan spekulasi (ngawur). Dalam ketakutan ada kehilangan, dan dalam spekulasi ada melampaui batas. Dan dalam keberanian ada keselamatan. Jikalau hatimu tidak mempunyai keberanian untuk melangkah, dan engkau disuruh milih antara diam karena takut melangkah atau berspekulasi. Maka pilihlah untuk berspekulasi, karena dalam ketakutan tidak ada kebaikan sama sekali, sedangkan dalam spekulasi terkadang akan mendapatkan yang diinginkan.

Kemudian KH Hasyim Asy’ari melanjutkan pembahasanya bahwasanya Nabi Muhammad itu selalu menolong mereka yang tertindas, menolong yang lemah dari kedholiman yang kuat, selalu menjadi yang terdepan dalam menolong orang yang membutuhkan, Nabi Muhammad juga selalu menjaga orang lemah dari orang yang ingin menyakiti dan membuat mereka tenang dari rasa ketakutannya. Adapun orang-orang yang ketika dimintai pertolongan untuk memadamkan rumah yang terbakar dan ia enggan, atau datang membantu tapi untuk menjarah harta dari rumah yang terbakar. dan Orang-orang yangapabila melihat hewan yang hendak menyambar anak kecil dan ia engan menolong, dan orang-orang yang apabila melihat wanita yang mau dirampok dan hanya terdiam, maka sesungguhnya mereka semua adalah orang-orang penakut yang lari dari kematian kemudian jatuh pada pada lubang kematian (hati dan perasaanya). Rosulullah bersabda seburuk-buruknya manusia adalah orang pelit yang menyebabkan keresahan dan penakut yang menyebabkan kelemahan.

Prof. Dr. Mustafa Al-Ghalayaini berpendapat bahwasanya keberanian itu dibagi menjadi dua. Pertama keberanian asali yaitu keberanian yang mendorong seseorang untuk mempertahankan dirinya, negaranya dari orang-orang yang mengharapkan keburukan padanya, sampai Allah  memutuskan akhir dari perkaranya. Apabila ia memperoleh kemenangan maka ia akan mendapatkan kemuliaan, dan apabila ia tidak mendapatkan apa yang dimaksudkan maka ia akan dicatat sebagai orang-orang yang ikhlas beramal.

Kedua keberanian akhlaqi adalah keberanian yang mendorong seseorang untuk membela orang yang tertindas, menolak ketidak adilan, mengatakan kebenaran walaupun pahit dan dihadapan penguasa serta mendorong seseorang untuk memberikan petunjuk dengan cara bijaksana, moderat.

7 Desember 2017

QONAAHNYA NABI MUHAMMAD DAN SEBUAH FAKTA MAKANAN KESUKAAANNYA BANYAK TUMBUH DI NUSANTARA

Kajian 6

Oleh Ibnu Badri (25/11/2017)

Pada kesempatan kali ini penulis ingin melanjutkan kajian kitab Irsyadul Mukminin mengenai sifat nerimone (Qona'ah) Nabi Muhammad dan makanan kesukaannya. KH Hasyim Asy’ari mengutarakan dalam kitabnya bahwasanya sejak Nabi Muhammad kecil, ia tidak pernah berebut makanan dengan yang lainya, tidak pernah rakus terhadap makanan walaupun untuk sekali saja. Apabila Nabi Muhammad merasakan lapar, maka ia akan memakan makanan yang sudah tersedia saja, apabila tidak tersedia makanan ia memilih untuk diam. Hal ini sangat berbeda dengan anak lain seusianya, kebanyakan mereka tidak menerima makanan yang tersedia, akan tetapi mereka selalu memaksa keluarganya untuk menyediakan makanan yang inginkan. Apabila keinginannya tidak dipenuhi, maka mereka akan berteriak-teriak bahkan sampai menangis agar keluarganya mau menyediakan makanan yang diinginkan. Perlu diketauhi bahwasanya kebiasaan tersebut adalah kebiasaan yang jelek dan sudah sepatutnya bagi kita untuk menjahuinya.

Perlu diketahui juga bahwasanya Nabi Muhammad tidak pernah mencela makanan sama sekali, akan tetapi apabila Nabi Muhammad menginginkan makanan maka ia akan memakanya tanpa mencela, dan apabila ia tidak menginginkanya maka Nabi akan meninggalkanya.Nabi Muhammad juga tidak pernah menolak makanan yang telah tersedia, dan tidak pernah pula memaksa untuk disediakan makanan yang beraneka ragam.



Penting juga untuk diketahui bahwasanya Nabi Muhammad selalu makan makanan yang berada didekatnya, artinya Nabi tidak pernah menjangkau-jangkau makanan yang berada jauh darinya. Sehingga Nabi Muhammad bisa dengan mudah memakanya seraya berucap aku dan para orang-orang sholih diantara umatku itu tidak pernah memaksa, Nabi juga tidak pernah lupa untuk menyebut nama Allah ketika handak makan dan mengucapkan hamdalah ketika mengakhirinya.

Kemudian KH Hasyim Asy’ari menuturkan bahwasanya Nabi Muhammad sangat menyukai manisan dan madu, dan sangat menyukai waluh (الدباء) dalam hal ini penulis belum melihat waluh tersebut dalam bentuk dan wujudnya, apakah seperti waluh yang biasa kita jumpai di Indonesia, atau waluh khas negeri hijaz. Kemudian Nabi Muhammad menuturkan bahwa sebaik-baiknya lauk pauk adalah cuka, oleh karena itu dirumahnya selalu dijumpai cuka. Telah menjadi kebiasaan Nabi Muhammad selalu makan dengan menggunakan tiga jari, kemudian Nabi menjilat jari-jari tersebut setelah selesai makan. Nabi Muhammad juga selalu minum dalam keadaan duduk, mengambil nafas tiga kali ketika minum, akan tetapi cara bernafasnya diluarnya gelas / wadahnya seraya bersabda sesunggguhnya bernafas ketika minum itu lebih menyegarkan dan lebih menyehatkan.

Diceritakan pula bahwasanya Nabi Muhammad melarang untuk minum dengan sekali napasan, karena hal tersebut menyerupai cara minumnya onta. Akan tetapi minumlah dengan dua atau tiga kali napasan.

Setalah itu KH Hasyim Asy’ari mencertikan Nabi Muhammad melaui riwayat yang disampaikan oleh Abu Huroiroh, bahsawanya Nabi keluar dari dunia dalam keadaan tidak pernah perutnya dalam keadaan kekenyangan karena memakan roti gandum, sampai-sampai satu - dua bulanan dapur Nabi tidak mengepul untuk memasak makanan. Diceritakan pula bahwasanya Nabi Muhammad suka memakan hadiah yang diberikan dan suka membalasnya juga akan tetapi Nabi juga tidak mau makan dari sedekah, dan terkadang Nabi Muhammad mengikat perutnya dengan batu untuk menahan rasa laparnya, bahkan sering sampai beberapa malam Nabi dan keluarganya dalam keadaan kelaparan.

Menambahkan sedikit cerita pada suatu saat datanglah setan (menyamar dalam wujud manusia) ke rumah Nabiyullah yahya, setalah mengetuk pintu rumah Nabi yahya, setan itu menunggu sejenak didepan pintu dengan perasaan galau dan muram, setelah beberapa saat Nabi yahya membukakan pintu rumahnya untuk setan (dalam hal ini Nabi yang sudah mengetahui kalau yang mendatangi adalah setan, dengan ijin dan ilmu yang diberikan oleh allah). Silahkan masuk kedalam rumah pak, jawab Nabi yahya kepada setan, setelah mereka duduk diruang tamu, kemudian Nabi yahya menanyakan kepada setan tersebut, kenapa kisana bersedih hati dan galau seperti ini, silahkan ceritkan semuanya kepadaku, begini Nabi yahya, saya adalah termasuk dari raja setan yang ditugasi untuk mengodamu setiap saat, akan tetapi semenjak kisana lahir sampe sekarang saya belom pernah berhasil menggoda kisana walaupun sekali, makanya saya bersedih hati, padahal prajuritku sesama setan telah bergemberika karena berhasil melaksanakan tugasnya, mendengar ceritanya Nabi yahya merenung hatinya sambil tersenyum seraya berkata, puji syukur aku panjatkan kepada tuhan semeta alam, sesaat kemudian setan tadi meminta ijin untuk pulang, kemudian Nabi yahya mengantarkan sampai kedepan pintu rumah. Berselang dua tahun setan tersebut kembali mendatangi Nabi yahya akan tetapi dalam keadaan tersenyum, setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, kemudian Nabi yahya bertanya kepada setan tersebut, dua tahun yang lalu kisana datang kerumahku disertai perasaan sedih dan galau, akan tetapi sekarang datang dengan wajah bergembira, ada apa wahai kisana ceritakanlah kepadaku, dengan senang hati setan tersebut menceritakan isi hatinya kepada Nabi yahya. Begini Nabi yahya perjuanganku selama ini akhirnya tidak sia-sia setelah beberapa tahun lamanya aku menggoda kisana, baru satu kali dalam seumur hidupku aku berhasil menggoda kisana, kemudian Nabi yahya bertanya, kapan kisana berhasil menggodaku, kemudian setan menjawab kemaren wahai kisana saat perut kisana kekenyangan. saat itu aku berhasil menggoda kisana, dengan keadaan kenyang, kisana malas beribadah dan berkurang ingatnya kepada allah, kisana lebih memilih bersantai-santai walaupun sekejap. Mendengarkan cerita ini Nabi yahya bersedih seraya banyak berishtighfar meminta ampunan kepada tuhan semeta alam, Nabi yahya juga berkomitmen mulai hari ini ia tidak akan kekenyangan lagi, ia akan makan setelah keadaannya lapar, dan ia akan berhenti makan sebelum keadaannya kenyang. Tak lama setelah itu setan berpamitan kepada Nabi yahya.

Melihat cerita ini dapat dijadikan ibroh bahwasanya lapar atau mengurangi makan adalah salah satu dari empat cara (disamping menyedikitkan bicara, menyedikitkan tidur, dan menyedikitkan berkumpul dengan manusia) untuk munuju perilaku tasawuf dan zuhud dan memposisikan diri untuk selalu mengingat allah.

Kemudian KH Hasyim Asy’ari menutup pembahasan pasal ini dengan menceritkan kesederhanaan dan kesehajaan Nabi Muhammad, beliau menuturkan bahwasanya Nabi Muhammad menjahit sandalnya sendiri, suka memerah susu kambingnya, menambal pakaiannya yang sobek dan timbanya yang pecah, Nabi Muhammad juga suka melayani dirinya sendiri dan keluarganya,

Dari semua penjelasan diatas, KH. Hasyim Asy’ari menarik sebuah kesimpulan bahwasanya Nabi Muhammad adalah sosok seorang yang suka menyedikitkan mengumpulkan kenikmatan dunia, padahal Allah telah memberikanya semua kunci gudangnya bumi (kenikmatan dunia) akan tetapi Nabi Muhammad menolak itu semua dan lebih memilih kenikmatan akhirat.

Sudahkah kita mencontoh dan mengikuti akhlak Nabi yang mulia tersebut..? tak perlu dijawab, cukup tanyakan dalam hatimu saja. Karena anda sendirilah yang paling mengerti tentang keadaan anda, bukan orang lain.

6 Desember 2017

KASIH SAYANG NABI TERHADAP ORANG LEMAH MENUNJUKAN PERHATIAN LEBIH TERHADAP RANAH SOSIAL BERMASYARAKAT

Kajian 5
Oleh Ibnu Badri (24/11/2017)

Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas kesempurnaan akhlak Nabi yangmencerminkan kepribadianya yang unggul, terutama kasih sayangnya yang universal terhadap seluruh alam dalam perspektif kitab Irsyadul mukminin karangan KH Hasyim As’ari, beliau memulai pembahasanya terlebih dahulu menyebutkan bagaimana kasih sayang Nabi terhadap anak yatim, miskin dan rasa bersyukurnya Nabi terhadap nikmat yang telah diberikan Allah.

KH Hasyim As’ari memulai pembahasanya dengan mengutip 3 ayat terakhir terakhir surat Ad-Dhuha “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu Berlaku sewenang-wenang. dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu ceritakan”.


     Setelah mengutip 3 ayat tersebut KH hasyim As’ari memulai membahas bagaimana kharakter dan akhak Nabi terhadap anak yatim, beliau mengutarakan bahwasanya Nabi Muhammad adalah orang yang sangat besar kasih sayangnya terhadap anak yatim, dan selalu membela hak-hak anak yatim. Nabi Muhammad juga orang yang sangat menganjurkan untuk selalu memuliakan dan menjaga hak-haknya anak yatim sampai-sampai Nabitidak pernah bermuka masam dihadapan anak yatim apalagi membentak dan menyakitinya. Bagaimana tidak Nabi Muhammad melakukan itu semua, ia sendiri telah ditinggal ayahnya, sejak ia masih dalam kandungan ibunya, dan dia terlahir dalam keadaan yatim, dan tumbuh sebagai anak yang faqir dalam asuhnya ibunya sampai ibunya meninggal dunia sedangkan usianya saat itu masih enam tahun. Pahitnya hidup sebagai anak yatim mendorong Nabi Muhammad untuk selalu berbuat baik terhadap anak yatim, seperti apa yang beliau sabdakan “barang siapa mengusap kepala anak yatim, maka setiap sehelai rambut yang diusapnya, akan menjadi cahaya kelak di hari qiyamat”. beliau juga membuat permisalan antara dirinya dengan orang yang menanggung anak yatim seperti dua buah jari (beliau sambil menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya). Mendengarkan rasa sayangnya Nabi yang begitu besar terhadap anak yatim,membuat sahabat umar bin khotob pasti selalu memberikan hadiah apabila ia melihat anak yatim.

Setelah menerangkan kasih sayang Nabi terhadap anak yatim, KH Hasyim As’ari melanjutkan pembahasan kitabnya dengan pembahan mengenai sikap Nabi Muhammad terhadap peminta-minta yang lemah jiwanya, KH Hasyim As’ari menuturkan menghardik peminta-minta yang lemah jiwanya bukanlah termasuk akhlak yang mulia, belia mencontohkan bahwasanya Nabi Muhammad tidak pernah dimintai pertolongan kecuali iya memberikan pertolongan itu atau diam. KH hasyim As’ari mengatakan bahwasanya Nabi Muhammad adalah orang yang paling dermawan, apabila memasuki bulan ramadhan, rasa dermawanya lebih besar dari pada angin yang dihembuskan. Diceritakan bahwasanya Nabi Muhammad membawa uang sebanyak 70.000 dinar, kemudian beliau meletakanya dikedalam sebuah tikar, kemudian Nabi membagi-bagi uang tersebut untuk dibagikan kepada orang yang membutuhkan, Nabi tidak pernak menolak orang yang meminta uang tersebut. Bagaimana sikap pedulinya Nabi Muhammad terhadap peminta-minta sampai-sampai istrinya sendiri menuturkan, “saya tidak pernah melihat Nabi muhammadmewakilkan sedekahnya kepada selain dirinya sendiri, sampai Nabi memberikan sedekahnya melalui tanganya sendiri.

KH hasyim As’ari menerangkan bahwasanya para ahli tafsir berbeda-beda memaknai arti kata peminta-minta dalam ayat terakhir surat ad-dhuha tersebut, apakah termasuk peminta-minta dalam hal harta benda, atau peminta-minta dalam keilmuan, akan tetapi apapun bentuknya peminta-minta tersebut tidak sepatutnya bagi kita membentak-bentaknya kecuali apabila ia memaksa atau penolakan kita secara halus tidak diterimanya.Termasuk salah satu kharakter luhur Nabi muhammada adalah suka berberita terhadap nikmat yang telah diterimanya (tahddust binni’mah), meneceritakan nikmat merukapan ung kapan syukur kepada dzat pemberi ni’mat, kemudian memberi khabar terhadap orang lain terhadap nikmat yang telah diterimanya, supaya orang lain turut bahagia dan ikut bersyukur terhadap Allah atas nikmat tersebut. Sahabat hasan bin ali berkata, apabila engkau mengerjakan amal kebaikan, maka ceritakanlah terhadap kerabat dan temunmu, dengan tuhuan supaya mereka patuh terhadapmu.

Kemudian KH Hasyim As’ari mengambil sebuah cerita mengenail hal tersebut. Beliau berkata bahwasanya pada suatu hari ada sesorang yang duduk dihadapan rosulullah, kemudian rosulullah memperhatikan orang tersebut, karena pakaianya yang kumal dan tak layak, setelah itu rosulullah bertanya kepadanya. Apakah engkau mempunyai harta..? ya, jawabnya dengan tegas. Kemudian rosulullah berkata apabila Allah telah memberikanmu nikmat berupa harta benda maka hendaknya tunjukanlah manfaat nikmat tersebut kepadamu. Bersyukur membuat nikmat itu semakin bertambah, seperti apa yang telah dijanjikan Allah dalam firmannya “ apabila engkau bersyukur maka pasti akan kutambah nikmatnya kepadamu”.

Dari penjelasan ini, tidak diragukan lagi bahwa nikmat tersebar yang dibebrikan Allah kepada kita adalah nikmat iman, islam. Dan perlu engkau ketahui sesungguhnya Allah telah menyempurnakan nikmatnya kepada umatnya Nabi muhamad, hal ini sesuai dengan firmanya “hari ini telah kusempurnakan kepadamu agamamu, dan telah kesempurnakan nikmatku kepadamu, dan telah aku ridhoi islam sebagai agamamu.

Yang jadi pertanyaan sekarang sudahkan kita bersyukur hari in? Ataukah kita melalaikan nikmatnya..? bahkan merasa kurang nikmat yang diberikan? ingat lo pada hari ini telah Allah sempurnakan nikmatnya kepadamu.

Kemudian KH hasyim As’ari melanjutkan pembahasanya mengenai kasih sayang Nabi Muhammad terhadap umatnya, beliau menuliskan pembahasanya dengan mengutip firman Allah “ sebab rahmat Allah maka berlakulah lemah lembut terhadap mereka, apabila engkau berkeras hati terhadapnya, niscaya mereka berlari menjauhimu. Maafkanlah mereka, dan mintkanlah ampunan mereka, dan bermusyararahlah terhadapnya suatu urusan. Diceritkan bahwasanya Nabi Muhammad adalah orang yang lemah lembut, tidak pernah marah-marah terhadap dirinya sendiri, dan Nabi Muhammad tidak pernah mengikuti nafsunya, hanya saja Nabi Muhammad itu marah apabila diterjangnya sesuatu yang telah dilarang Allah. Perlu engkau ketahui juga bahwa kasih sayangnya Nabi terhadap umatnya lebih besar dari pada rasa sayang kedua orang tua terhadap anaknya. Nabi sangat bahagia apabila umatnya mendapatkan petunjuk, dan beliau bersedih hati apabila umat jatuh kedalam lembah kedholiman, Nabi selalu memaafkan kesalahan umatnya, dan selalu memintakan ampunan  terhadap umatnya yang melakukan kesalahan. Sangatlah tampak keutamaan dan keberuntangan umat Nabi muhammad dengan diutusnya Nabi Muhammad, karena beliaulah yang akan menyelamatkan umatnya, dan karena beliau juga suka bermusyawarah mengenai beberapa urusan dengan umatnya. Hal ini dibuktikan dengan firman Allah “sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu,sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin”.

Kemudian ini KH hasyim As’ari menjelaskan kasih sayangnya Nabi Muhammad dengan mengutip pendapatnya Hasan bin Mufadhol,bahwasanya Allah tidak mengumpulkan kepada Nabinya dengan dua sifat dari sifatnya, kecuali hanya untuk Nabi Muhammad saw. Allah mengumpulakan dua sifatnya sekaligus hanya kepada Nabi Muhammad yaitu sifat “roufur Rahim”. Hal ini sama dengan firmanya “ان الله بالناس لرؤف رحيم” . Berdasarkan penelitian salah satu teman penulis yang kebetulan namanya Rauf, dalam skripsinya ia mengutarakan bahwasanya dalam Al-Quran Allah tidak pernah memanggil Nabi Muhammad langsung dengan namanya, akan tetapi mengunakan sifatnya atau gelarnya seperti ya Nabi, ya ayuhal rosul, ya ayuhal muhammil, dll berbeda dengan Nabi lainya Allah memanggilnya dengan namanya langsung seperti ya musa, ya ibrohim, ya daud. Hal ini menunjukan kemuliaan Nabi Muhammad dihadapan Allah.

Sebagian dari kasih sayangnya Nabi terhadap umatnya yaitu Nabi selalu meringankan dan memudahkan segala urusan umatnya hal, dan Nabi juga tidak menyukai terhadap sesuatu karena ditakutkan menjadi sutu kewajiban bagi umatnya, hal ini sesuai apa yang disabdakanya “ kalaulah tidak memberatkan untuk umatku, pasti akan kuperintahkan mereka untuk bersiwakan setiap mau melaksanakan sholat”.

Nabi Muhammad adalah penyayang terhadap orang lemah, orang miskin, dan Nabi suka menjenguk orang sakit, menyaksikan jenazah, berjalan bersama orang faqir dan para janda, dan suka memenuhi kebutuhan orang faqir. Nabi juga selalu menijabahi segala undangan yang datang kepadanya entah itu orang faqir, kaya, rendah, orang mulia dll. Nabi Muhammad juga termasuk orang yang mempunyai belas kasihan terhadap hewan, diceritakan pada suatu hari Nabi berjalan, kemudian beliau melihat unta yang yang punggung dan perutnya telah menyatu karena sangat lapar, kemudian Nabi bersabda bertakwalah kita semua kepadaAllah menganai hewan ini, naikilah hewan ini secara patut, dan berilah makan juga secara patut.

Kalaulah Nabi Muhammad itu tidak mempunyai akhlak yang mulia, sifat lemah lembut, sifat kasih sayang maka Nabi Muhammad tidak akan mampu menyatukan orang arab, yang karakter mereka sangat keras dalam membantah, sangat sulit ditundukan. Kita bisa melihat watak dan kharakter keras orang arab melalui firmanya“ orang arab itu sangat kufur dan munafik, apabila rosulullah memperlakukan mereka dengan keras hati maka mereka pasti berlaridan menjahuinya, akan tetapi rosulullah berlaku lembut terhadap mereka rendah hatiterhadap mereka sehingga hati mereka teratarik terhadap islam dengan kemuliayaan dan kelembutan, kemudiaan Nabi Muhammad mensholihkan akhlaq mereka dan menyatukanya supaya tidak tepecah belah, maka pada akhirnya merekalah yang menjadi penolong Nabi menyebarkankan agama islam keseluruh penjuru dunia.

 Oleh karana itu sebagai genarasi islami penerus dakwah Nabi sudah sepaputnya bagi kita untuk berdakwah dan menyebarkan agama islam dengan cara yang santun, bijak serta tanpa disertai kekerasan.

Dari keterangan yang telah dijelaskan KH Hasyim As’ari mengenai kasih sayang Nabi terhadap orang lemah, miskin faqir, dll. Bahwasnya ajaran islam sangat menekankan keseimbangan antara dimensi ritual dan dimensi social, kedua dimensi ini tidak pisah dipisakan satu sama lainya. Kitatidak bisa mengganggap orang yang sholih dan alim hanya karena ia rajin sholat dan ibadah akan tetapi dia tak pernah memperdulikan keadaan sosialnya, kita juga tidak bisa menggangkap alim sholih orang yang rajin bersedekah dan bersosial akan tetapi dia lupa akan kewajiban terhadap tuhannya untuk sholat, puasa dan berdoa.

Prof Qurais shihab dalam bukunya siroh Nabi Muhammad tinjauan al-quran dan hadist menduga bahwa ketikamauan orang qurais menerima ajakan dakwah islam sebenarnya bukan masalah keyakinan atau teologis akan tetapi lebih dominan faktor social dan ekonomi, mereka yang kaya, yang biasanya berlomba-lamba menumpuk harta benda takut ketika masuk islam akan menjadi hambatan mereka untuk meraih kenikmatan dunia. Oleh karena itu diawal dakwah islam, kebanyakan mereka yang masuk islam adalah dari golongan orang yang tidak mampu. Hal ini sesuai dengan pendapat Djohan Efendi bahwasnya surat-surat awal yang turun kepada Nabi muhammad kebanyakan menerangkan dimensi social ketimbang dimensi keyakinan. Sebagai contoh sini hanya diambil 12 surah paling awal saja, yakni: (1)Surah al-'Alaq, (2) Surahal-Mudatstsir, (3) Surah al-Lahab, (4) Surah al-Quraysy, (5)Surah al-Kawtsar, (6) Surah al-Humazah, (7) Surah al-Ma'un,(8) Surah al-Takatsur, (9) Surah al-Fil, (10) Surah al-Layli, (11) Surah al-Balad, dan (12) Surah al-Insyirah. Sengajahanya diambil 12 surah di atas, sebab surahyang ke-13 adalah Surahal-Dhuha. Beberapamufassir menceriterakan bahwa Surahal-Dhuha turun sesudah Nabi mengalami masa jeda di mana wahyu terhenti beberapalama. Karena itu ke-12 surah di atas turunatau diwahyukan kepada Nabi pada masa-masa sangat awal dari keNabian, ataudari sejarah Islam. Ke-12 surah tersebut sama sekali tidak menyinggung masalah keyakinan. Enam surah di antaranya justru menyinggung masalah keserakahan terhadap kekayaan dan ketidakpedulianterhadap orang-orang yang menderita. Dalam Surah al-Lahab, yang turun dalam urutan ke-3, disinggung bahwa harta kekayaan dan usaha seseorang sama sekalitidak akan menyelamatkannya dari hukuman di Hari Akhirat. Tidak berguna baginya kekayaannya, dan apa yang dikerjakannya akan dibakar ia dalam api menyala. Surah al-Humazah, yang turun dalam urutan ke-6, dengan keras mengingatkan akan nasib celaka bagi mereka yang dengan serakah menumpuk-numpukkekayaan dan menganggap kekayaannya itu bisa mengabadikannya. Celaka amat si pengumpat si pemfitnah. Yang menumpuk-numpukharta kekayaan dan menghitung-hitungnya. Ia menyangka harta kekayaannya bisa mengekalkannya.Dalam surah yang turun berikutnya, Surah al-Ma'un, orang-orang yang tidak mempedulikan penderitaan anak-anak yatimdan orang-orang miskin dikualifikasikan sebagai orang-orang yang membohongkan agama. Tahukah engkau orang yang membohongkan agama Itulah dia yang mengusir anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang-orang miskin. Surah berikutnya yang turun dalam urutan ke-8, Surahal-Takatsur, memberikan peringatan keras terhadap orang-orangyangasyik berlomba-lomba dalam kemewahan dan kekayaan. Kita menjadi lalai karena perlombaan mencari kemegahan dan kekayaan. Hingga kita masuk ke pekuburan. Dalam Surah al-Layli yang diwahyukan dalam urutan ke-10 diberikan kabar baik terhadap mereka yang suka memberi dan sebaliknya kabar buruk bagi mereka yang kikir dan bakhil. Maka siapa yang suka memberi dan bertaqwa. Dan membenarkan nilai kebaikan Kami akan memudahkan baginya jalan kebahagiaan. Dan siapa yang kikir dan menyombongkan kekayaan. Dan mendustakan nilai kebaikan Kami akan mudahkan baginya jalan kesengsaraan. Dan tiada berguna baginya kekayaannya ketika ia binasa. Yang terakhir Surah al-Balad yang diwahyukan dalam urutan ke-11, menyinggung keengganan manusia memberikan bantuan kepada sesamanya yang hidup dalam penderitaan dan kesengsaraan. Dan Kami tunjuki ia dua jalan. Tapi tak mau ia menempuh jalan mendaki. Tahukah engkau jalan mendaki itu. Memerdekakan budak sahaya. Atau memberi makanan di masa kelaparan. Pada anak yatim yang punya tali kekerabatan. Atau orang papa yang terlunta-lunta.

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwasanya dimensi social juga menjadi tolak ukur keimanan dan kecintaan kita terhadap Muhammad. Telah dicontohkan Bagaimana Nabi Muhammad menunjukan rasa kasih sayangnya terhadap orang miskin, faqir, yatim, peduli terhadap hewan, mengingatkan mereka yang yang sukanya menumpuk-numpukharta benda. Yang jadi mengeherankan bagi penulis adalah sekarang banyak orang yang gembar-gembor mengikuti sunnah Nabi Muhammad, akan tetapi secara lahiriah saja dan cenderung melupakan intisari dari sunah dan ajaran Nabi muhammad.
Oleh karena itu mucul dalam benak penulis berbagai macam pertanyaan
1. Sudahkah kita mencintai Nabi dengan menyayangi anak yatim?
2. Sudahkah kita mencintai Nabi dengan menolong yang lemah?
3. Sudahkah kita mencintai Nabi denngan memberi makan mereka yang kelaparan, mereka yang membutuhkan?
4. Sudahkah kita mencintai Nabi dengan menyayangi binatang?
5. Sudahkah kita mencintai Nabi dengan meningkatkan kesholihan sosial kita?
6. Sudahkah kita mencintai Nabi tapi perilaku kita masih suka menumpuk harta benda, suka membentak anak yatim, tidak mempedulikan keadaan sekitar?

Semoga kita bisa selalu istiqomah mencintai dan mengikuti Nabi, penulis jadi teringat doa yang diajarkan di Pondok Pesantern Al-Asror, doa tersebut yang bagi penulis merupakan doa yang terbaik

.اللهم أني اسالك من خيرما سألك منه سيدنا ونبينا محمد وأعوذ بك من شر ما استعاذ منه سيدنا ونبينا محمد.

Ya Allah sesungguhnya aku meminta suatu kebaikan, yang kebaikan itu selalu diminta oleh Nabi Muhammad, dan saya berlindung dari keburukan, yang Nabi Muhammad selau meminta perlindungan dari keburukan tersebut.

4 Desember 2017

KESAKSIAN ALLAH AKAN AGUNGNYA AKHLAK NABI MUHAMMAD

Kajian 4
Oleh Ibnu Badri (23/11/2017)

Pada kesempatan kali ini penulis ingin mengupas kembali kitab karangan KH Hasyim As’ari yang berjudul Irsyadul mukminin pada pasal pentingnya belajar sejarah Nabi dan kesaksian Allah akan agungnya akhlak Nabi. KH Hasyim As’ari memulai pembahasan pasal ini dengan menguraikan akan pentingnya belajar sejarah perjalanan manusia yang paling agung didunia dan diakhirat, yaitu Nabi Muhammad, beliau berkata perlu diketahui bahwasanya sejarah perjalanan Nabi merupakan jalan keselamatan bagi mereka yang mengharapkan kebahagiaan di dunia dan diakherat. Bagaimana tidak merupakan sebuah jalan kesuksesan, Allah sendirilah yang menjamin akan hal itu. Dalam kitabnya yang mulia Allah berfirman:

 “sungguh pada diri Rosulullah terdapat suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan hari akhir maka ingatlah Allah terus menerus”.



Dengan ini menjadi nyata dan jelaslah bahwa barang siapa yang mengharapkan ridho Allah maka ikutilah suri tauladan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Sejarah perjalanan Nabi yang merupakan jalan mencapai kebahagiaan adalah obat yang paling mujarab untuk membersihkan hati, dan wasilah yang paling tepat untuk mensucikanhati. Apabila engkau membaca, mentadaburi, menyelami makna keindahan bahasa Al-Quran maka engkau akan menemukan bahwasanya Al Quran menyebutkan keindahan akhlak rosulullah dalam berbagai aspek kehidupan dan Al quran akan meninggalkan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan akhlak rosulullah. Hal ini sangat sesuai dengan sabda Rosulullah:

 "sesungguhya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak sempurna”.

Dengan sabda Rosulullah ini cukuplah dapat dimengerti bahwasanya tujuan utama diutusnya Rosulullah adalah untuk membersihkan hati, menyempurnakan akhlak yang mulia, karena manusia menjadi berbeda dengan mahluk lainya karena hati dan akhlaknya.

KH Hasyim As’ari mengutarakan bahwa sejarah perjalanan Nabi adalah jalan keselamatan bagi mereka yang mengharapkan kebahagiaan oleh karena itu patut disadari tujuan mengkaji sejarah perjalanan Nabi bukan sekedar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah dan bukan juga untuk memetik hal-hal positif yang terkandung dalam berbagai kejadian penting. Oleh karena itu, tidak sepatutnya kita menganggap kajian sejarah perjalanan Nabi termasuk sejarah pada umumnya, seperti sejarah hidup salah seorang Khalifah, atau sesuatu periode sejarah yang telah silam. Akan tetapi tujuan mengkaji sejarah perjalanan Nabi adalah agar setiap muslim memperoleh gambaran tentang hakekat Islam secara paripurna, yang tercermin di dalam kehiduapn Nabi Muhammad saw, tentunya sesudah ia memahami secara konseptional akan prinsip, kaidah yang dapat diterima oleh nalar. Dengan kata lain tujuan utama mengkaji sejarah perjalanan Nabi adalah agar setiap orang dapat menemukan sosok suri tauladan yang paling luhur dalam segala sendi kehidupan. Setelah itu menjadikanya sebagai pedoman dalam segala tindakanya.Tidak diragukan lagi, bahwa metode luhur apapun yang dicari oleh manusia, pasti akan ditemukanya dalam diri rosulullah, dengan sangat jelas dan sempurna. itulah salah satu alasan kenapa allah menasbihkan rosulullah sebagai teladan umat.

Bagi kita, Kehidupan Rasulullah saw jelas-jelas memberikan budi pekerti luhur mulia, baik sebagai pemuda Islam yang lurus perilakunya dan terpercaya di antara kaum dan juga kerabatnya, ataupun sebagai da’i kepada Allah dengan hikmah dan nasehat yang baik, yang mengerahkan segala kemampuan untuk menyampaikan risalahnya. Juga sebagai kepala negara yang mengatur segala urusan dengan cerdas dan bijaksana, sebagai suami teladan dan seorang ayah yang penuh kasihsayang, sebagai panglima perang yang mahir, sebagai negarawan yang pandai dan jujur, dan sebagai muslim secara keseluruhan (kaffah) yang dapat melakukan secara imbang antara kewajiban beribadah kepada Allah dan bergaul dengan keluarga dan sahabatnya.

Anni Besant, seorang filsuf kelahiran india mengutarakan sangat tidak masuk akal bagi seseorang yang mempelajari kehidupan dan kharakter Nabi Muhammad. Bila hanya mempunyai rasa hormat saja kepada beliau, karena mempelajarinya dapat melampaui rasa hormat, sehingga akan mempercayainya sebagai sang pembawa risalah dari sang pencipta.

Seorang penyair yang gemar akan ilmu sejarah bersenandung
 _
 “siapa yang menghimpun peristiwa sejarah dalam benaknya maka sekian usia ditambahkanya pada usianya”._

Penambahan usia yang dimaksud adalah apabila penambahan usia yang disertai dengan kekayaan ide, kreatifitas dan imajinasi yang tertuang dalam sebuah gagasan, sehingga gagasan itu akan terus hidup dan bernilai ratusan tahun lamanya. Inilah pentingnya belajar dan menuangkan gagasan, apalagi gagasan yang dituangkan berkaitan erat dengan mahluk yang paling sempurna, niscaya kelak ia akan diakui sebagai umatnya dan mendapatkan syafaatnya, amin.
Setelah memaparkan pentingnya mengetahui sejarah perjalanan Nabi, KH Hasyim As’ari menerangkan tentang kesaksian Allah akan agungnya budi pekerti Nabi, beliau berkata bahwasanya Allah menerangkan agungnya akhlak rosulullah dalam firmanya surat Al Qolam:
 )انك لعلي خلق عظيم(

 “sesungguhnya bagimu akhlak yang agung”.

Ayat ini menjadi kesaksian Allah kepada Nabi Muhammad, bahwasanya pada diri Nabi Muhammad terdapat akhlak yang agung yang seorang dimanapun tidak akan memperoleh derajat keagungan akhlak ini. Oleh karena itu Nabi Muhammad selalu tabah menghadapi cobaan dan siksaan yang para Nabi bergelar ulul azmi tidak mampu untuk tabah terhadap cobaan dan sikasaan itu.

Kesaksian ini diperkuat lagi melalui jawaban istri beliau, sayyidah ‘Aisyah tentang akhlak Nabi ketika ditanya oleh sahabat Said bin Hisyam, ia berkata bahwasanya akhlaknya Nabi itu Al-Quran, oleh karena itu setiap keutamaan yang disebutkan dalam Al-Quran maka pasti ada pada diri Nabi Muhammad. Sesungguhnya akhlak yang agung tidaklah menjadi adat kebiasaan kecuali pasti dibagikan disetiap umat, tidak hanya terkumpul pada diri seorang saja, maka engkau bisa menyaksikan Allah menganugerahi sesorang dengan kemuliaan, sementara yang lainnya dengan keberanian, menganugerahi seseorang dengan kezuhudan, sementara yang lainya dengan ketakwaan, atau kecerdasan dan kebijaksanaan, akan tetapi hanya pada diri Nabi muhammadlah terkumpul semua akhlak yang mulia .

30 November 2017

KELAHIRAN NABI MUHAMMAD DAN PERTUMBUHANNYA

Kajian 3
Oleh Ibnu Badri (22/11/2017)

Pada kajian kali ini, penulis akan membahas tentang kelahiran orang yang paling mulia di dunia dan akhirat, yaitu nabi Muhammad SAW dan pertumbuhanya sesuai yang termaktub dalam kitab Irsyadul Mukminin karangan KH Hasyim As’ari.
KH Hasyim As’ari memulai pembahasan kitabnya dengan menerangkan bahwasanya nabi Muhammad SAW lahir dari kedua orang tuanya yang faqir, yaitu Abdullah dan Aminah, bapaknya wafat menjelang dua bulan kelahirannya, hal inilah menurut sepakat riwayat.
Para ulama sepakat bahwasanya nabi Muhammad lahir pada hari senin, bulan robiul awal tahun gajah, akan tetapi mereka berselisih dalam tanggal kelahiranya, ada yang mengatakan tanggal dua, tanggal delapan, tanggal sepuluh, dan tanggal dua belas. Menurutnya keempat pendapat tersebut adalah yang masyhur menurut para ulama’.
Kemudian KH Hasyim Asyari mengutip pendapat Hakim Abu Ahmad, yang menyatakan bahwasanya nabi Muhammad lahir pada hari senin, diangkat menjadi nabi pada hari senin, hijrah meninggalkan kota mekah pada hari senin, dan memasuki kota madinah pada hari senin, 12 robiul awal, meninggal pada waktu dhuha, hari senin tanggal 12 robiul awal, tahun 11 H, dan berusia 63 tahun.


KH Hasyim As’ari juga menyebutkan riwayat lain mengenai pendapat yang menyatakan bahwasanya bapaknya meninggal ketika beliau dalam kandungan ibunya, bapaknya Abdullah meninggal di kota suci madinah di samping pamannya, bani nujjar. Kemudian dimakamkan di tanah abwa’. Ketika nabi berusia 6 tahun, ibunya meninggal dan dimakamkan di abwa’ juga. Kota abwa’ adalah suatu tempat yang berada diantara kota mekah dan madinah.kemudian beliau diasuh oleh kakeknya, abdul mutolib sampai usianya delapan tahun, kemudian sepeninggal kakeknya, pamannyalah yang mengasuhnya. Pada usia 40 tahun nabi diangkat menjadi rosul dan menempati kota mekah selama 13 tahun, kemudian hijrah ke madinah dan tinggal selama 10 tahun, sampai beliau meninggal.
Menurut Prof Qurais Shihab bahwasanya kelahiran nabi itu pada senin malam menjelang fajar, Aminah hanya ditemani jariyahnya saja yaitu Barokah Ummu Aiman, ada juga riwayat yang kelahiran aminah dibantu oleh seorang bidan yang bernama As-Syafa. Kemudian pada hari ketujuh dari kelahirannya, kakeknya, Abdul Mutholib menyebelih beberapa ekor binatang dan menjamu kerabatnya, ketika itu ia ditanya mengapa putra Abdullah itu dinamai dengan nama Muhammad, sangat berbeda dengan nama leluhurnya, kemudian beliau menjawab aku mengharap dia terpuji berkali-kali dilangit dan dibumi. Hal ini berbeda dengan Mahmud atau hamid yang artinya terpuji walau hanya sekali.
Berkaitan dengan pemberian nama, Imam Abdurahim Bin Qodhi menuturkan bahwasanya nabi Muhammad dialam malakut biasa dipanggil dengan sebutan ahmad, karena nama ahmad mengindikasikangerakan dalam sholat احمد bediri seperti alif, rukuk seperti ha’. Sujud seperti mim dan dal, duduk tasyahud seperti huruf dal. Beliau juga menuturkan bahwasanya allah akan menciptakan mahluk seperti tulisan Muhammad محمد mim menunjukan kepala, ha’ menunjukan badan, mim menunjukan perut, dal menunjukan dua kaki, agar lebih jelas tulisan lafal muhamad yang horizontal ditulis dengan posisi vertikal, maka akan sangat terlihat jelas bahwa bentuk manusia seperti lafal Muhammad.
Menurut Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Nurul Dholam bahwasanya menurut pandangan ahlus sunah waljamah, nasab nabi Muhammad di jalur bapak cukup disebutkan sampai Adnan saja, dan nasab nabi Muhammad dari jalur ibu cukup disebutkan sampai Kilab saja. Hal ini karena nasab setelah itu masih terjadi khilaf diantara juru badhe (ahli pernasaban) tentang nasab nabi Muhammad setelah adnan dan kilab.
Prof. Said Romandhon Al-Buti mengingatkan kepada kita bahwa diantara konsekuensi mencintai Rasulullah Saw ialah mencintai kaum dan kabilah di mana Rasulullah saw lahir, bukan dari sedi individu dan jenis, tetapi dari segi hakekat semata. Ini karena hakekat Arab Quraisy telah mendapatkan kehormatan dengan bernasabkan Rasulullah saw kepada kabilah tersebut. Hal ini tidaklah bertentangan dengan adanya orang-orang Arab atau Quraisy yang menyimpang dari jalan Allah, dan merosot tingkat kehormatanIslamnya. Karena penyimpangan atau kemerosotan ini secara otomatis akan memutuskan dan menghapuskan kaitan nisbat antara mereka dan Rasulullah saw.
Bukan suatu kebetulan jika Rasulullah saw dilahirkan dalam keadaan yatim, kemudian tidak lama kehilangan kakeknya juga, sehingga pertumbuhan pertama kehidupannya jauh dari asuhan bapak dan tidak mendapat kasih sayang dari ibunya. Allah telah memilihkan pertumbuhan ini untuk Nabi-Nya karena beberapa hikmah. Diantaranya agar musuh Islam tidak mendapatkan jalan untuk memasukkan keraguan ke dalam hati, atau menuduh bahwa Muhammad saw telah mereguk pengetahuan dakwah dan risalah semenjak kecilnya, dengan bimbingan dan arahan bapak dan kakeknya. Sebab kakek Abdul Muththalib adalah seorang tokoh di antara kaumnya. Kepadanyalah tanggung jawab memberikan jamuan makan dan minum para hujjaj diserahkan. Adalah wajar bila seorang kakek atau bapak membimbing danmengarahkan cucu atau anaknya kepada warisan yang dimilikinya.Allah telah menghendaki agar musuh-musuh Islam tidak menemukan jalan kepada keraguan seperti itu, sehingga Rasul-Nya tumbuh dan berkembang jauh dari tarbiyah (asuhan) bapak, ibu, dan kakeknya. Bahkan masa kanak-kanaknya yang pertama, sesuai dengan kehendak Allah swt, harus dijalani di pedalaman Bani Sa’d jauh dari seluruh keluarganya. Ketika kakeknya meninggal, ia berpindah kepada asuhan pamannya, Abu Thalib, yang hidup sampai tiga tahun sebelum hijrah. Sampai akhir kehidupannya , pamannya tidak pernah menyatakan dirinya masuk Islam. Ini juga termasuk hikmah lain, agar tidak muncul tuduhan bahwa pamannya memiliki pengaruh di dalam dakwahnya.
Demikianlah Allah menghendaki agar Rasulullah saw tumbuh sebagai yatim, dipelihara oleh inayah Allah semata, jauh dari tangan-tangan yang memanjakannya, dan harta yang akan membuatnya hidup dalam kemegahan, agar jiwanya tidak cenderung kepada kemewahan dan kedudukan. Bahkan agar tidak terpengaruh oleh arti kepemimpinan dan ketokohan yangmengintainya, sehingga orang-orang akan mencampur-adukkan kesucian nubuwah dengan kemegahan dunia, dan agar orang-orang tidak menuduhkan telah mendakwahkan nubuwwah demi mencapai kemegahan dunia.
Setelah menerangkan kelahiran nabi, KH Hasyim As’ari melanjutkan pembahasanya mengenai sifat kemuliaan nabi Muhammad, seraya berkata bahwasanya nabi muhammad adalah contoh teladan mengenai sifat iffah dan qonaah, uswatun hasanah mengenai kejujuran dan amanat, bahwasanya sejak kecil nabi Muhammad adalah pribadi yang mandiri dan suka bekerja, hal ini terbukti ketika beliau masih belia, beliau menggembala kambing dengan beberapa ongkos, kemudian ketika memasuki masa remaja, nabi bekerja kepada sayidah khotijah bin khuwalit untuk menjajakan barang daganganya, beliau menjalani pekerjaan ini amanat dan jujur, sesungguhnya telah diketahui bersama bahwasanya keberkahan dan keuntungan adalah hal yang mengikuti kejujuran dan niat yang bagus.
Ada hikmah kenapa sejak usia belia nabi muhammad suka bekerja dari mulai menggembala kambing sampai berdagang hal ini berkaitan dengan bentuk kehidupan yang diridhoi oleh Allah untuk para hambah-Nya yang shaleh di dunia. Sangatlah mudahbagi Allah mempersiapkan bagi Nabi saw, sejak awal kehidupannya segala sarana kehidupan dan kemewahan yang dapat mencukupinya sehingga tidak perlu lagi memeras keringat dan menggembalakan kambing. Tetapi hikmah Ilahi menghendaki agar kita mengetahui bahwa harta manusia yang terbaik adalah harta yang diperolehnya dari usaha sendiri, dari hasil bekerja serta memeras keringat dan imbalan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dan saudaranya. Sebaliknya, harta yang terburuk ialah harta yang di dapatkan seseorang tanpa bersusah payah, atau tanpa imbalan kemanfaatan yang diberikan kepada masyarakat.
Kemudian ketika memasuki usia 25 tahun nabi Muhammad menikahi sayidah khodijah, yang merupakan tuanya dalam hal perdagangan. Perlu diketahui bahwasanya sayyidah khodijah adalah wanita pertama yang nikahinya, dan tiada pernah nabi menikah dengan yang lainya, ketika ia masih hidup. Ia adalah perempuan penolongdakwah nabi, perempuan yang berjuang bersama nabi dan rela mengorbangkan apapun itu termasuk dirinya sendiri dan hartanya, karena itulah jibril memerintahkannabi untuk menyampaikan salam khusus dari Allah untuk khodijah, ia meninngal 3 tahun sebelum hijrah kemadinah.
Sehubungan dengan pernikahan Rasulullah saw dengan Khadijah kesan yang pertama kali didapatkan dari pernikahan ini ialah, bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak memperhatikan faktor kesenangan jasadiah. Seandainya Rasulullah sangat memperhatikan hal tersebut, sebagaimana pemuda seusianya, niscaya beliau memilih orang yang lebih muda, atau minimal orang yang tidak lebih tua darinya. Nampaknya Rasulullah saw menginginkan Khadijah karena kemuliaan akhlaknya di antara kerabat dan kaumnya, sampai ia pernah mendpatkan julukan ‘ Afifah Thairah (wanita suci) pada masa jahiliyah.
Menurut Prof Qurais Shihab motivasi rosulullah menikahi khadijah adalah karena wanita yang mulia lagi diidamkan banyak pria, yang mampu memilih siapa yang wajar untuk menjadi pendampingnya, dan ternyata pilihanya sangat tepat. Pilihanya itu bertemu dengan sosok lelaki yang meyakini kebahagiaan rumah tangga bukan ditentukan oleh banyak sedikitnya materi atau karena status dan kedudukan akan tetapi ditentukan kepribadian yang luhur dan asal usul yang bersih serta kematangan berpikir dan bertindak, itulah nabi Muhammad.
Akan tetapi yang patut disadari kecintaan nabi terhadap khadijah adalah anugerah dari allah. Hal ini sesuai dengan sabdanya “ sungguh aku telah dianugerahi oleh Allah cinta khadijah”.
Kemudian KH Hasyim As’ari menutup bab ini dengan menceritakan bagaimana kejujuran dan kecedasan nabi Muhammad seraya berucap ketika kaum Qurais terjadi persilisihan mengenai peletakan hajar aswad pada saat membangun ka’bah, hampir saja terjadi peperangan diantara qurais jikalau mereka tak menyetujui kebijaksanaan nabi. Akhirnya nabi memutuskan perkara ini dengan sangat cerdas yaitu dengan meletakan hajar aswad di selendang kainnya, kemudian meminta setiap suku untuk memegang kain tersebut dan mengangkatnya ke tempat yang akan diletakan hajar aswat tersebut. Dengan cara ini mereka para kaum qurais terhindar dari permusuhan dan pertengkaran.