21 September 2012

NASIHAT UNTUK PARA MUALAF

Nasihat Untuk Para Mualaf--Nasihat untuk orang-orang yang baru masuk agama Islam:


Pertama: Hendaklah ia mulai mempelajari dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad SAW. agar ia merasa yakin akan kebenaran risalahnya. 

Kedua: Hendaklah ia serius membaca al-Qur'an dan mempelajari makna-makna, serta perintah-perintah dan larangan­-larangan yang dikandungnya. 

Ketiga: Hendaklah ia mempelajari bahasa Arab, baik cara membaca, menulis dan menuturkannya, serta mempelajari makna kata-katanya supaya ia dapat memahami firman Allah SWT. dan sabda Nabi SAW. 

Keempat: Hendaklah ia mempunyai keinginan kuat untuk mempelajari aqidah Islamiyah yang dipegang teguh oleh kaum ahli sunnah dan salaf; yaitu aqidah yang bersumber dari al-Qur`an, Sunnah, dan atsar-atsar yang shahih dari para sahabat dan para imam-imam besar. 

Kelima: Hendaklah ia mengenali bid`ah-bid`ah dan perkara­-perakara baru yang diperbuat oleh kebanyakan orang-orang yang menyimpang supaya ia berhati-hati terhadap syubhat-syubhat dan propaganda-propaganda mereka yang menyesatkan serta menjauhkannya dari agama Islam yang benar. 

Keenam: Hendaklah ia memperdalam agama dan mempelajari syari`at dan kandungannya, baik berupa ibadah-­ibadah, ketaatan-ketaatan, hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan, maupun etika dan akhlak serta perlakuan-perlakuan yang menjelaskan sasaran syari`at ini dan ketinggian ajaran­ajarannya. 

Ketujuh: Hendaklah ia mempunyai keinginan yang kuat untuk mengamalkan dan mengaplikasikan segala apa yang telah ia ketahui ataupun yang ia dengar berupa amalan-amalan sunah, sebab buah ilmu adalah amal. Termasuk rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban serta semua anjuran-anjuran yang diserukan oleh syari`at Islam. 

Kedelapan: Waspadalah terhadap perbuatan-perbuatan maksiat dan penyimpangan-penyimpangan serta hal-hal yang diharamkan, sekalipun itu termasuk kebiasaan-kebiasaan yang banyak dilakukan pada berbagai bangsa, seperti minuman­-minuman keras dan narkotika. Selain itu hendaklah ia menjauhkan diri dari pergaulan bersama para pelaku maksiat dan penyeru kesesatan. 

Kesembilan: Hendaklah bersabar menghadapi musibah, cobaan, ujian dan kesengsaraan yang menimpa di jalan Allah, baik berupa kesempitan hidup, kesusahan, kemiskinan, maupun berupa siksaan, penganiyaan, penjara dan kelaliman dari musuh-musuh Allah yang berusaha merintangi sampainya agama Allah kepada orang lain. 

Kesepuluh: Hendaklah ia melakukan dakwah kepada Allah dan menjelaskan ajaran-ajaran Islam dan sasaran-sasarannya kepada para kerabat, tetangga, dan teman-teman sepergaulannya dari orang-orang Nasrani dan lainnya, serta mendorong mereka untuk memeluk agama Islam sembari menceritakan akibat yang baik bagi orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah.

Dengan demikian selamatlah agamanya dan syahidlah di atas agama Islam yang benar; yaitu agama yang hanya diterima Allah tidak ada agamapun selainnya yang diterima.

Wallahu A`lam wa shallallahu `ala muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam

17 September 2012

PENCIPTAAN NABI ISA A.S


PENCIPTAAN NABI ISA A.S--Bagaimana komentar anda terhadap orang yang menjadikan ayat berikut: "Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah men­ciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia" sebagai bukti bahwa Isa adalah manusia biasa yang diutus menjadi rasul, bukan seperti yang dikatakan umat Nasrani, bahwa Isa adalah anak Allah -Mahasuci Allah setinggi­ tingginya dari tuduhan itu-.

Ayat ini sudah sangat jelas dan sebagai bukti bahwa Nabi Isa A.S adalah makhluk yang diciptakan, dan Allah SWT. Yang Maha Esa yang telah menciptakannya. Sebagaimana Allah menciptakan Adam AS. dari tanah, tanpa ada ayah dan ibu, tetapi hanya dari tanah yang basah, kemudian Allah memerintahkan tanah tersebut dengan menfirmankan `kun' maka terciptalah Adam seperti yang dikehendaki Allah SWT. Nah, demikian jugalah penciptaan Isa AS. Sama-sama diciptakan dari tanah, hanya bedanya ada ibu, tapi tidak punya ayah. Allah berfirman `kun', maka jadilah nabi Isa AS. berada di rahim ibunya, setelah itu Isa kecil lahir menjadi manusia yang sempurna. Allah menyertai nabi Isa dengan bukti-bukti yang membedakannya dari sekalian manusia, yaitu bisa bicara ketika masih bayi. Di antara ucapan nabi Isa waktu bayi itu sebagaimana Allah jelaskan dalam ayat al-Quran: "Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi."

Tafsir ayat ini dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya sebagai berikut: Allah swt. berfirman yang artinya: "Sesungguhnya misal (perumpamaan) Isa di sisi Allah", maksudnya, dalam hal kekuasaan Allah menciptakan Isa tanpa ayah, "adalah seperti (penciptaan) Adam" yang diciptakan tanpa ayah dan ibu. Bahkan, Adam "Allah ciptakan dari tanah, kemudian Ia firmankan kepada tanah, `KUN' (tanah, jadilah engkau Adam), `FA YAKUN' (maka terciptalah Adam). Maka, Yang menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu pasti lebih masuk akal kuasa juga menciptakan Isa tanpa ayah tapi punya ibu. Sekiranya -ini sebatas asumsi- disahkan mengangkat Isa menjadi Tuhan karena ia tercipta tanpa ayah, berarti lebih layak lagi jika Adam yang dianggap Tuhan. Jelas diketahui, mengangkat Adam sebagai TUhan pun tidak dibenarkan atau BATIL. Hal itulah mengapa jika kita mengangkat Isa (atau yang lainnya) menjadi Tuhan adalah jauh lebih BATIL dan jelas-jelas merupakan paham yang keliru. Maksud dari proses penciptaan yang beragam ini -wallahu'alam- Allah ingin menunjukkan kepada sekalian makhluknya; bahwa ketika Allah menciptakan Adam tanpa melalui proses pertemuan jenis jantan dan betina (ini merupakan sebuah hikmah), berikutnya Allah menciptakan Isa dengan adanya jenis betina saja tanpa ada jenis jantan, membuat keduanya berbeda dengan proses penciptaan makhluk lain secara normal, karena umumnya terdiri dari pasangan jantan dan betina.


7 September 2012

SEBUTAN AL `UZARA' (PERAWAN SUCI) UNTUK SITI MARYAM


Sebutan Al `Uzara' (perawan suci) untuk siti maryam--Dalam bahasa Arab, kata Al `Uzara' artinya gadis perawan. Bentuk lain adalah kata Al'uzrah yang artinya `keperawanan'. lmam Bukhari telah meriwayatkan sebuah hadits dalam pembahasan Adab di kitab shahih, begitu juga Imam Muslim meriwayatkan hadits yang sama dalam pembahasan `keutamaan-keutamaan' (Al Fadhail), dari Abu Sa'id, ia berkata, "Rasulullah saw. lebih pemalu daripada Al `Uzara' (gadis perawan) yang berada di balik tirai/kelambu. Apabila Rasulullah saw. marah pada sesuatu, (kemarahannya) tampak dari rona wajahnya". Dengan demikian, Maryam juga dijuluki dengan Al-'Uzara'. Bahkan dalam hal ini tersebut juga dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya jilid 1 halaman 202 dan di jilid 5 halaman 290, serta Ibnu Ishak meriwayatkannya di kitab ar-Raudh al Anfi jilid 1 halaman 211, hadits yang panjang diriwayatkan dari Ummu Salamah dengan sanad yang shahih mengangkat kisah hijrah ke negeri Habasyah. Dalam hadits itu diceritakan, bahwa raja Najasyi berkata hepada rombongan yang hijrah, "Bagaimana pendapat kalian tentang Isa bin Maryam? Ja'far bin Abu Thalib menjawab pertanyaan itu, "Pendapat kami sesuai dengan ajaran yang dibawa nabi kami, bahwa nabi Isa itu adalah hamba Allah, utusan Allah, Ruhullah, Kalimat Allah yang disampaikan kepada Maryam Sang Perawan Suci.

Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits yang serupa dalam kitab hadits Musnad jilid 1 halaman 461 dengan sanad hasan, dari Ibnu Mas'ud dalam kisah hijrah ke negeri Habsyah (Etopia) bahwa raja Najasyi bertanya kepada rombongan, "Bagaimana pendapat kalian tentang nabi Isa dan bundanya?". Mereka menjawab, "Kami mengakuinya sebagaimana difirmankan Allah swt. bahwa Isa adalah Kalimatullah, Ruhullah yang disampaikan kepada Maryam Al-'Uzara' (Perawan Suci) yang tidak pernah tersentuh oleh manusia" Hadits. Maknanya, bahwa Maryam as. tetap perawan, tidak pernah disentuh siapapun, dan bukan pula seorang wanita tuna susila. Umat Nasrani tidak memiliki hak mutlak dalam hal penamaan Maryam dengan sebutan Al `Uzara' (Perawan Suci).