20 Oktober 2012

KERANCUAN TRINITAS UMAT NASHRANI


KerancuanTrinitas--Di dalam al-Qur'an, Allah swt. berfirman yang artinya, "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Al­lah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, "(AIlah itu) tiga'; berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. "(QS. an-Nisaa' 4:171). Sebagian umat Nashrani mengatakan, bahwa ayat di atas menguatkan akan apa yang selama ini kami yakini, yaitu bahwa Isa A.S adalah trinitas (Bapa, Anak, dan Roh Kudus). Bagaimanakah jawaban yang syar'i untuk pertanyaan nyeleneh seperti ini?

Pernyataan seperti itu adalah pernyataan yang tidak benar, bahkan sama sekali tidak memiliki dasar. Sebab, tidak terdapat satu ayat pun di dalam al-Qur`an yang menunjukkan akan kebenaran pernyataan mereka tersebut, baik secara zhahir maupun secara batin. Di dalam ayat tersebut, Allah swt. justru menamakannya dengan nama makhluk, yaitu Isa, bahkan kemudian enasabkan kepada ibunya, Maryam, sebagaimana kebanyakan orang menasabkan anak-anak mereka kepada ayahnya. Di dalam ayat tersebut, Allah swt. pun telah secara jelas menyatakan, bahwa Isa A.S adalah rasul-Nya, atau orang yang diutus oleh-Nya kepada bani Israil. Untuk tujuan itulah kemudian Allah swt. pun memuliakannya dengan menyebutnya sebagai kalimatullah, atau ciptaan yang diciptakaan-Nya dengan kalimat "Kun (Jadi)", sebagaimana Allah swt. menciptakan Adam dengan kalimat tersebut, tanpa melalui seorang ayah dan ibu. Di dalam ayat tersebut, Allah swt. juga telah secara jelas menyatakan, bahwa nabi Isa A.S adalah satu ruh dari ruh-ruh yang telah diciptakan oleh Allah swt.

Di dalam ayat di atas, jelas terlihat, bahwa Allah swt. memberikan kepada nabi Isa A.S tiga buah nama dan tiga buah sifat; dimana setiap nama dan sifat tersebut membatalkan pernyataan-pernyataan nyeleneh umat Nashrani. Penyebutan nabi Isa A.S dengan ibnu Maryam di dalam ayat di atas, jelas menunjukkan, bahwa klaim urriat Nashrani yang mengatakan, bahwa nabi Isa A.S adalah anak tuhan, tidaklah benar. Sebab, Tuhan sendiri telah menasabkannya kepada ibunya. Kemudian, Allah swt. juga menyebutkannya sebagai rasul-Nya, atau orang yang diutus oleh-Nya, sebagaimana para rasul yang lain, yang juga diutuskan kepada manusia untuk menjelaskan kepada mereka akan syari'at­syari'at-Nya, serta mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada-Nya. Allah swt. juga menyebutkannya sebagai kalimatullah yang dihembuskan oleh Jibril ke dalam rahim ibunya, dan menyebutkannya juga sebagai ruh dari-Nya.

Seluruh sebutan-sebutan tersebut tidak lain adalah pemuliaan yang diberikan Allah swt. kepadanya, sebab dirinya tidak lain adalah ruh dari ciptaan Allah swt.

Sedangkan kalimat ruhul kudus yang terdapat di dalam ayat, "Dan sesungguh-nya Kami telah mendatangkan al-Kttab (Taurat) epada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh." (QS. al-Baqarah (2) : 87).

Maksudnya adalah Jibril A.S yaitu malaikat yang menyampaikan wahyu dari Allah swt. kepada para rasul-Nya, dan Jibril A.S sendiri adalah makhluk Allah swt. sebagaimana malaikat­malaikat-Nya yang lain. Wallahu A'lam

10 Oktober 2012

BERDEBAT DENGAN KAUM NASHRANI



Berdebat dengan kaumnashrani--Apakah hukumnya menurut syariat, jika dilakukan perdebatan oleh sebagian da'i-da'i dengan ahli kitab dengan memakai kitab Injil untuk membuktikan sta­tus kenabian nabi Isa AS. dan bahwa ia adalah manusia. Apakah cara ini bertentangan dengan kondisi al-Quran yang berlaku sebagai penasakh (pembatalan hukum) kitab-kitab suci yang terdahulu?

Boleh hukumnya menghujat umat Nasrani memakai dalil yang bersumber dari kitab-kitab Injil yang mereka percayai dan yang akui keabsahannya. Lalu dengan mamakai data-data yang ada dalam Injil untuk membuktikan risalah nabi Isa dan bahwa ia adalah manusia yang diciptakan yang dengan sendirinya mematahkan dakwaan mereka, bahwa nabi Isa adalah anak Allah. Dan dengan data-data yang ada dalam kitab Injil juga yang menerangkan kenabian nabi Muhammad saw. serta berita gembira atas kebenaran risalahnya, dan bahwa setiap orang yang bertemu dengannya wajib mengikut agama yang ia bawa. Sistem ini telah dijadikan sebagai ketetapan dan mitsaq bagi para nabi untuk mengikuti nabi ajaran nabi yang setelahnya. Sekiranya nabi Muhammad saw. diutus sewaktu nabi Isa masih hidup, nabi Isa wajib mengikuti kepada nabi Muhammad serta memerintahkan umatnya untuk tunduk kepada syariat yang terbaru. Sebab agama yang dibawa Muhammad adalah agama terakhir, dan dengan hadirnya syariat baru berarti menghapus syariat lama. Menghujat umat Nasrani dengan cara begir:i tidak bertentangan dengan kondisi al-Quran yang berlaku sebagai penasakh kitab-kitab suci yang sebelumnya. Dalam kitab Injil tersebut ada bukti-bukti yang menjelaskan, bahwa masa berlakunya terbatas sampai datangnya nabi Muhammad saw.

Ulama-ulama Islam telah melakukan hal yang sama. Mereka menghujat umat Nasrani dengan memberikan penjelasan kebenaran ajaran Islam dalam ke-Esa­an Allah dan status manusia yang disandang Isa AS., serta membuktikan risalah Muhammad saw. Ulama-ulama yang menempuh jalan seperti itu antara lain, Ibnu Hazm, [bnu al-Qayyim, Rahmatullah bin Khalil al-Hindi, serta ulama di abad moderen seperti Syaikh Ahmed Deedat, dan lain-lain.

5 Oktober 2012

KEUTAMAAN SEPULUH HARI DZUL HIJJAH

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah t bersabda:
"Tiada hari yang lebih di cintai Allah ta'ala untuk berbuat suatu amalan yang baik dari pada hari-hari ini yaitu sepuluh hari Dzul Hijjah, para sahabat bertanya," wahai Rasulullah, tidak pula dengan jihad fii sabilillah? Rasulullah menjawab," tidak, tidak pula jihad fii sabilillah, kecuali jika ia keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tak kembali lagi".

Dan Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah bersabda: "Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta'ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)".

Begitu pula Ibnu Hibban dalam  shahihnya meriwayatkan dari Jabir t, bahwa Rasulullah bersabda: "Hari yang paling utama adalah hari Arafah"

Amalan-Amalan Yang Disyari'atkan Pada Sepuluh Hari Dzul Hijjah
   1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan ini adalah amalan yang paling utama. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan keutamaan haji dan umrah, di antaranya:
"Dari umrah yang satu ke umrah yang lain sebagai penghapus dosa-dosa diantara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasannya, kecuali surga".
   2. Puasa dengan sempurna (penuh) pada sepuluh hari Dzul Hijjah atau semampunya, terutama pada hari Arafah (9 Dzul Hijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji.
Tidak diragukan bahwa ibadah puasa merupakan bentuk amalan yang utama dan ia merupakan amalan yang di pilih oleh Allah ta'ala untuk diri-Nya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits Qudsy: "Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya, dia (hamba yang berpuasa) meninggalkan syahwat, makan dan minumnya demi Aku"

Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudry t berkata, Rasulullah  bersabda: "Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka selama tujuh puluh tahun (jarak tempuh perjalanan selama tujuh puluh tahun) karena puasanya". (Muttafaq Alaih).

   3. Membaca takbir (Allahu Akbar) dan memperbanyak dzikir pada hari-hari ini, Allah ta'ala berfirman: "Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari –hari yang telah ditentukan". (QS. Al Hajj: 28). Hari-hari yang telah di tentukan dalam ayat ini ditafsirkan dengan sepuluh hari Dzul Hijjah. Para ulama berpendapat bahwa disunahkan pada harihari ini untuk memperbanyak dzikir, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, termaktub dalam musnad Imam Ahmad: "Maka perbanyaklah pada hari-hari ini tahlil, takbir dan tahmid"

Imam Bukhari rahimahullah menjelaskan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma, mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzul Hijjah untuk menggemakan takbir pada khalayak ramai, lalu orang-orang mengikuti takbir mereka berdua. Ishaq meriwayatkan dari para ahli fiqih pada masa tabi'in, bahwa mereka mengucapkan pada sepuluh hari Dzul Hijjah:
"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada ilah yang berhak untuk di sembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, AllAh Maha besar dan bagi Allah segala pujian" Dan disunnahkan pula mengeraskan suara ketika melantunkan takbir di tempat-tempat umum, seperti: di pasar, di rumah, di jalan umum atupun di masjid dan di tempat-tempat yang lain.

   4. Bertaubat dan menutup setiap pintu maksiat dan dosa, hingga ia meraih ampunan dan rahmat Allah, karena maksiat dapat menjauhkan seseorang dari rahmat- Nya, sedangkan keta'atan dapat mendekatkan seseorang kepada Allah dan meraih cinta-Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah r bersabda: "Sesungguhnya Allah cemburu dan cemburunya Allah adalah terhadap hamba-Nya yang melakukan halhal yang diharamkan-Nya"( Muttafaq 'alaih).

  5. Memperbanyak amal shaleh dan ibadah-ibadah yang di sunnahkan, seperti; shalat, jihad, membaca Al quran, dan beramar ma'ruf nahi munkar dan lain-lain, karena sesungguhnya ibadah-ibadah semacam ini dilipatgandakan pahalanya, bahkan amalan-amalan yang biasa lebih utama dan dicintai Allah dari pada amalan yang utama pada waktu yang lain.

  6.  Disyari'atkan untuk melantunkan takbir di sepanjang malam dan siang hingga shalat Ied (ini dinamakan takbir mutlak), begitu pula takbir muqayyad yaitu takbir yang dilakukan setelah shalat jama'ah fardhu. Bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, waktu takbir di mulai sejak fajar hari Arafah, sedangkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji, waktunya di mulai dari Zhuhur hari qurban hingga Ashar hari tasyriq yang terakhir.

   7. Disyari'atkan pula qurban pada hari raya Iedul- Adha dan hari-hari tasyriq. Sunnah ini sejak nabi Ibrahim 'alaihissalam, di saat Allah menebus Ismail 'alaihissalam (putera Ibrahim) dengan seekor hewan sembelihan yang besar. Terdapat dalam hadits shahih bahwa Rasulullah r berqurban dengan dua ekor kambing yang gemuk, beliau menyembelihnya dengan tangan sendiri, dengan cara: membaca bismillah dan bertakbir seraya meletakkan kakinya pada kedua leher kambing. (Muttafaq 'alaihi ). Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi r bersabda,"Bila kalian melihat hilal (bulan sabit) Dzul Hijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkorban maka hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya". Dan dalam riwayat yang lain dijelaskan," Maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya hingga ia menyembelih qurbannya".