November 22, 2012

TEKS PIDATO PERINGATAN MUHARRAM

Kita telah masuk ke tahun baru 1434 Hijriah, semoga kita termasuk orang-orang yang akan mendapat rahmat dan ridho dari Allah SWT. Amin Ya Robbal A'lamiin...:)

Di sini admin berusaha mencontohkan pidato dalam rangka peringatan tahun baru Hijriah, semoga dapat memberi manfaat bagi para pembaca.






السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

الحمد لله والصلاة والسلام على سيدنا ومولانا محمد بن عبدالله وعلى اله وصحبه ومن تبعه الى يوم القيامة ولا حول ولا قوة الا بالله. اما بعد.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Pertama-tama, yang paling utama dan yang harus di utamakan, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Biqoulina  الحمد لله رب العالمين, Yang telah memberikan kita banyak nikmat, yang kita tidak akan pernah mampu untuk menghitug banyaknya, seperti yang telah Allah sebutkan dalam Al-qur’an, salah satunya adalah nikmat iman dan islam serta nikmat sehat, sehingga kita dapat bertatap muka, bermuajjahah dalam kesempatan yang InsyaAllah penuh barokah ini, Amin. Kedua kalinya, Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Manusia yang paling baik akhlaknya, paling indah tutur katanya, paling santun pekertinya, Nabi akhiruzzaman, Nabi yang paling mulia, Baginda Rasulullah محد SAW. Biqoulina اللهم صل على سيدنا محمد , Semoga kita yang berada dalam majlis ini termasuk kedalam umatnya yang akan tercatat dalam tinta emas orang-orang yang akan menerima Syafaat Beliau besok di yaumil akhir, Amin Ya Robbal A’lamin.

Hadirin yang berbahagia,
Bulan Muharram, adalah termasuk salah satu dari 4 bulan yang di muliakan oleh Allah SWT. Sebagaimana yang telah di firmankan oleh Allah dalam KitabNya yang mulia, Al Qur’an Al Karim. Kemuliaan bulan Muharram adalah karena dalam bulan itu terdapat hari Asyuro’ (10 Muharram), dimana pada hari itu banyak sekali keutaman-keutamaan yang jika kita mau beramal soleh, tentu akan kita peroleh Rahmat dari Allah.
Di hari itu kita disunnahkan untuk menyayangi anak yatim dengan mengusap kepalanya dan memberinya sedekah. Selain itu kita juga di sunnahkan untuk melapangkan makanan untuk keluarga di rumah seperti memasakkan makanan yang spesial dan lain dari hari biasanya.
Sunnah lain yang tak kalah penting adalah berpuasa di hari itu. Bahkan Rasullulah SAW bersabda bahwa “barang siapa yang berpuasa pada hari Asyuro’, maka seakan-akan ia telah berpuasa setahun lamanya”, itulah keutaman hari Asyuro’ yang terdapat dalam bulan Muharram ini.
Bukan tanpa alasan kita disunnahkan untuk berpuasa pada hari itu, karena jika kita melihat sejarah, banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada tanggal tersebut, diantaranya adalah:

1. Taubat Nabi Adam diterima pada tanggal 10 Asyuro’. Seperti yang kita ketahui bahwa Nabi Adam dikeluarkan Allah dari surga karena godaan syaitan dan kemudian memakan buah Khuldi. Ia pun dipisahkan dari Siti Hawa saat diturunkan di bumi. Menurut riwayat beratus–ratus tahun lamanya Nabi Adam memohon ampun pada Allah, kemudian pada tanggal inilah taubatnya diterima.

2. Nabi Nuh di selamatkan dari banjir bah pada tanggal ini.

3. Nabi Ibrahim diselamatkan dari api yang membakarnya pada tanggal ini.

4. Nabi Yusuf dan Ya’kub di pertemukan kembali pada tanggal ini. Menurut Alquran Nabi Yusuf yang ditinggalkan oeh saudara-saudaranya sejak kecil dan terpisah dari nabi Ya’kub puluhan tahun lamanya. Dan selama puluhan tahun itu juga nabi Yakub menangis dan merindukan nabi Yusuf. Kemudian berkat Rahmat Allah, Nabi Yakub dan Yusuf dipertemukan kembali pada hari itu.

5. Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan pada tanggal ini.

6. Nabi Khidir di beri ilmu pada tanggal ini.

7. Allah menciptakan surga dan neraka pada tanggal ini.

8. Allah menciptakan malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail pada tanggal ini.

9. Allah menciptakan Arsy dan Kursi Nya pada tanggal ini. Allah menciptakan Kalam, bumi dan langit juga  pada tanggal ini.

Itulah peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi pada hari Asyuro’, semoga kita termsuk kedalam orang-orang yang mampu meraih kemuliaan dalam hari yang di muliakan itu, Amiin.
Hadirin Rahimakumullah.

Untuk menjalani kehidupan pada tahun ini kita harus menggunakan siasat yang mampu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya:
1.    Kita harus memperhitungkan terhadap kepentingan hidup dimasa yang akan datang terutama di akhirat dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

2.    Kita harus mau dan mampu melihat kesalahan dan dosa diri kita sendiri pada tahun yang lalu, kemudian kita beraubat dan memperbaiki diri dengan mengerjakan amal saleh. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 39, yang artinya : “Maka barang siapa yang bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang”.

3.    Kita harus menyadari bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi kita, maka semua rayuan dan bujukan syetan berupa minuman khamr, narkoba, judi, zina dan perbuatan maksiat lainnya harus ditinggalkan karena merugikan dan menyengsarakan diri kita, baik di dunia maupun di akhirat.

Itulah tiga hal yang merupakan strategi yang mungkin bisa kita lakukan dalam menjalani hidup ditahun ini. Semoga Allah SWT mengampuni dosa kita pada tahun yang lalu, meridhoi ibadah dan amal saleh kita, serta memberikan kesehatan dan umur panjang kepada kita dan keluarga, sehingga dapat meningkatkan ibadah dan amal saleh pada tahun ini, Amiin.
Akhirnya, pada tahun yang baru ini marilah kita bersama-sama memperbaiki haliyah kita, perbuatan kita, ibadah kita, serta semangat kita dalam berjuang di jalan Allah.
Demikian yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan apa yang disampaikan ini bisa memberi bermanfaat bagi kita semua. Amin Amin ya Rabbal alamin. Terimakasih atas perhatiannya, mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan.
Akhirul kalam, Billaahi taufiq walhidayah.


 Ùˆ السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته.

October 20, 2012

KERANCUAN TRINITAS UMAT NASHRANI


KerancuanTrinitas--Di dalam al-Qur'an, Allah swt. berfirman yang artinya, "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Al­lah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, "(AIlah itu) tiga'; berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Ilah Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara. "(QS. an-Nisaa' 4:171). Sebagian umat Nashrani mengatakan, bahwa ayat di atas menguatkan akan apa yang selama ini kami yakini, yaitu bahwa Isa A.S adalah trinitas (Bapa, Anak, dan Roh Kudus). Bagaimanakah jawaban yang syar'i untuk pertanyaan nyeleneh seperti ini?

Pernyataan seperti itu adalah pernyataan yang tidak benar, bahkan sama sekali tidak memiliki dasar. Sebab, tidak terdapat satu ayat pun di dalam al-Qur`an yang menunjukkan akan kebenaran pernyataan mereka tersebut, baik secara zhahir maupun secara batin. Di dalam ayat tersebut, Allah swt. justru menamakannya dengan nama makhluk, yaitu Isa, bahkan kemudian enasabkan kepada ibunya, Maryam, sebagaimana kebanyakan orang menasabkan anak-anak mereka kepada ayahnya. Di dalam ayat tersebut, Allah swt. pun telah secara jelas menyatakan, bahwa Isa A.S adalah rasul-Nya, atau orang yang diutus oleh-Nya kepada bani Israil. Untuk tujuan itulah kemudian Allah swt. pun memuliakannya dengan menyebutnya sebagai kalimatullah, atau ciptaan yang diciptakaan-Nya dengan kalimat "Kun (Jadi)", sebagaimana Allah swt. menciptakan Adam dengan kalimat tersebut, tanpa melalui seorang ayah dan ibu. Di dalam ayat tersebut, Allah swt. juga telah secara jelas menyatakan, bahwa nabi Isa A.S adalah satu ruh dari ruh-ruh yang telah diciptakan oleh Allah swt.

Di dalam ayat di atas, jelas terlihat, bahwa Allah swt. memberikan kepada nabi Isa A.S tiga buah nama dan tiga buah sifat; dimana setiap nama dan sifat tersebut membatalkan pernyataan-pernyataan nyeleneh umat Nashrani. Penyebutan nabi Isa A.S dengan ibnu Maryam di dalam ayat di atas, jelas menunjukkan, bahwa klaim urriat Nashrani yang mengatakan, bahwa nabi Isa A.S adalah anak tuhan, tidaklah benar. Sebab, Tuhan sendiri telah menasabkannya kepada ibunya. Kemudian, Allah swt. juga menyebutkannya sebagai rasul-Nya, atau orang yang diutus oleh-Nya, sebagaimana para rasul yang lain, yang juga diutuskan kepada manusia untuk menjelaskan kepada mereka akan syari'at­syari'at-Nya, serta mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada-Nya. Allah swt. juga menyebutkannya sebagai kalimatullah yang dihembuskan oleh Jibril ke dalam rahim ibunya, dan menyebutkannya juga sebagai ruh dari-Nya.

Seluruh sebutan-sebutan tersebut tidak lain adalah pemuliaan yang diberikan Allah swt. kepadanya, sebab dirinya tidak lain adalah ruh dari ciptaan Allah swt.

Sedangkan kalimat ruhul kudus yang terdapat di dalam ayat, "Dan sesungguh-nya Kami telah mendatangkan al-Kttab (Taurat) epada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada `Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh." (QS. al-Baqarah (2) : 87).

Maksudnya adalah Jibril A.S yaitu malaikat yang menyampaikan wahyu dari Allah swt. kepada para rasul-Nya, dan Jibril A.S sendiri adalah makhluk Allah swt. sebagaimana malaikat­malaikat-Nya yang lain. Wallahu A'lam

October 10, 2012

BERDEBAT DENGAN KAUM NASHRANI



Berdebat dengan kaumnashrani--Apakah hukumnya menurut syariat, jika dilakukan perdebatan oleh sebagian da'i-da'i dengan ahli kitab dengan memakai kitab Injil untuk membuktikan sta­tus kenabian nabi Isa AS. dan bahwa ia adalah manusia. Apakah cara ini bertentangan dengan kondisi al-Quran yang berlaku sebagai penasakh (pembatalan hukum) kitab-kitab suci yang terdahulu?

Boleh hukumnya menghujat umat Nasrani memakai dalil yang bersumber dari kitab-kitab Injil yang mereka percayai dan yang akui keabsahannya. Lalu dengan mamakai data-data yang ada dalam Injil untuk membuktikan risalah nabi Isa dan bahwa ia adalah manusia yang diciptakan yang dengan sendirinya mematahkan dakwaan mereka, bahwa nabi Isa adalah anak Allah. Dan dengan data-data yang ada dalam kitab Injil juga yang menerangkan kenabian nabi Muhammad saw. serta berita gembira atas kebenaran risalahnya, dan bahwa setiap orang yang bertemu dengannya wajib mengikut agama yang ia bawa. Sistem ini telah dijadikan sebagai ketetapan dan mitsaq bagi para nabi untuk mengikuti nabi ajaran nabi yang setelahnya. Sekiranya nabi Muhammad saw. diutus sewaktu nabi Isa masih hidup, nabi Isa wajib mengikuti kepada nabi Muhammad serta memerintahkan umatnya untuk tunduk kepada syariat yang terbaru. Sebab agama yang dibawa Muhammad adalah agama terakhir, dan dengan hadirnya syariat baru berarti menghapus syariat lama. Menghujat umat Nasrani dengan cara begir:i tidak bertentangan dengan kondisi al-Quran yang berlaku sebagai penasakh kitab-kitab suci yang sebelumnya. Dalam kitab Injil tersebut ada bukti-bukti yang menjelaskan, bahwa masa berlakunya terbatas sampai datangnya nabi Muhammad saw.

Ulama-ulama Islam telah melakukan hal yang sama. Mereka menghujat umat Nasrani dengan memberikan penjelasan kebenaran ajaran Islam dalam ke-Esa­an Allah dan status manusia yang disandang Isa AS., serta membuktikan risalah Muhammad saw. Ulama-ulama yang menempuh jalan seperti itu antara lain, Ibnu Hazm, [bnu al-Qayyim, Rahmatullah bin Khalil al-Hindi, serta ulama di abad moderen seperti Syaikh Ahmed Deedat, dan lain-lain.

October 5, 2012

KEUTAMAAN SEPULUH HARI DZUL HIJJAH

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah t bersabda:
"Tiada hari yang lebih di cintai Allah ta'ala untuk berbuat suatu amalan yang baik dari pada hari-hari ini yaitu sepuluh hari Dzul Hijjah, para sahabat bertanya," wahai Rasulullah, tidak pula dengan jihad fii sabilillah? Rasulullah menjawab," tidak, tidak pula jihad fii sabilillah, kecuali jika ia keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tak kembali lagi".

Dan Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah bersabda: "Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta'ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)".

Begitu pula Ibnu Hibban dalam  shahihnya meriwayatkan dari Jabir t, bahwa Rasulullah bersabda: "Hari yang paling utama adalah hari Arafah"

Amalan-Amalan Yang Disyari'atkan Pada Sepuluh Hari Dzul Hijjah
   1. Melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan ini adalah amalan yang paling utama. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan keutamaan haji dan umrah, di antaranya:
"Dari umrah yang satu ke umrah yang lain sebagai penghapus dosa-dosa diantara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasannya, kecuali surga".
   2. Puasa dengan sempurna (penuh) pada sepuluh hari Dzul Hijjah atau semampunya, terutama pada hari Arafah (9 Dzul Hijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji.
Tidak diragukan bahwa ibadah puasa merupakan bentuk amalan yang utama dan ia merupakan amalan yang di pilih oleh Allah ta'ala untuk diri-Nya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits Qudsy: "Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya, dia (hamba yang berpuasa) meninggalkan syahwat, makan dan minumnya demi Aku"

Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudry t berkata, Rasulullah  bersabda: "Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka selama tujuh puluh tahun (jarak tempuh perjalanan selama tujuh puluh tahun) karena puasanya". (Muttafaq Alaih).

   3. Membaca takbir (Allahu Akbar) dan memperbanyak dzikir pada hari-hari ini, Allah ta'ala berfirman: "Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari –hari yang telah ditentukan". (QS. Al Hajj: 28). Hari-hari yang telah di tentukan dalam ayat ini ditafsirkan dengan sepuluh hari Dzul Hijjah. Para ulama berpendapat bahwa disunahkan pada harihari ini untuk memperbanyak dzikir, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, termaktub dalam musnad Imam Ahmad: "Maka perbanyaklah pada hari-hari ini tahlil, takbir dan tahmid"

Imam Bukhari rahimahullah menjelaskan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma, mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzul Hijjah untuk menggemakan takbir pada khalayak ramai, lalu orang-orang mengikuti takbir mereka berdua. Ishaq meriwayatkan dari para ahli fiqih pada masa tabi'in, bahwa mereka mengucapkan pada sepuluh hari Dzul Hijjah:
"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada ilah yang berhak untuk di sembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, AllAh Maha besar dan bagi Allah segala pujian" Dan disunnahkan pula mengeraskan suara ketika melantunkan takbir di tempat-tempat umum, seperti: di pasar, di rumah, di jalan umum atupun di masjid dan di tempat-tempat yang lain.

   4. Bertaubat dan menutup setiap pintu maksiat dan dosa, hingga ia meraih ampunan dan rahmat Allah, karena maksiat dapat menjauhkan seseorang dari rahmat- Nya, sedangkan keta'atan dapat mendekatkan seseorang kepada Allah dan meraih cinta-Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah r bersabda: "Sesungguhnya Allah cemburu dan cemburunya Allah adalah terhadap hamba-Nya yang melakukan halhal yang diharamkan-Nya"( Muttafaq 'alaih).

  5. Memperbanyak amal shaleh dan ibadah-ibadah yang di sunnahkan, seperti; shalat, jihad, membaca Al quran, dan beramar ma'ruf nahi munkar dan lain-lain, karena sesungguhnya ibadah-ibadah semacam ini dilipatgandakan pahalanya, bahkan amalan-amalan yang biasa lebih utama dan dicintai Allah dari pada amalan yang utama pada waktu yang lain.

  6.  Disyari'atkan untuk melantunkan takbir di sepanjang malam dan siang hingga shalat Ied (ini dinamakan takbir mutlak), begitu pula takbir muqayyad yaitu takbir yang dilakukan setelah shalat jama'ah fardhu. Bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, waktu takbir di mulai sejak fajar hari Arafah, sedangkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji, waktunya di mulai dari Zhuhur hari qurban hingga Ashar hari tasyriq yang terakhir.

   7. Disyari'atkan pula qurban pada hari raya Iedul- Adha dan hari-hari tasyriq. Sunnah ini sejak nabi Ibrahim 'alaihissalam, di saat Allah menebus Ismail 'alaihissalam (putera Ibrahim) dengan seekor hewan sembelihan yang besar. Terdapat dalam hadits shahih bahwa Rasulullah r berqurban dengan dua ekor kambing yang gemuk, beliau menyembelihnya dengan tangan sendiri, dengan cara: membaca bismillah dan bertakbir seraya meletakkan kakinya pada kedua leher kambing. (Muttafaq 'alaihi ). Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi r bersabda,"Bila kalian melihat hilal (bulan sabit) Dzul Hijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkorban maka hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya". Dan dalam riwayat yang lain dijelaskan," Maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya hingga ia menyembelih qurbannya".