Kajian 7
Oleh Ibnu Badri
(26/11/2017)
Pada kesempatan kali ini
penulis ingin melanjutkan kajian mengenai kitab Irsyadul Mukminin karya KH Hasyim
Asy’ari, pada pasal keberanian Nabi Muhammad, KH Hasyim Asy’ari menerangkan
bahwasanya Nabi Muhammad adalah orang paling pemberani diantara para para
pemberani, Nabi Muhammad tidak pernah takut mati untuk menegakan agama yang
diridhoi oleh Allah, oleh karena itu Nabi selalu mengikuti peperangan selama ia
hidup, tidak pernah didengar kabar walaupun sekali mengenai Nabi Muhammad yang
berniat untuk terlambat untuk mengikuti perang, niat terlambat untuk mengikuti
perang pun tidak pernah telintas dipikiran Nabi apalagi niat untuk tidak
mengikuti perang. Nabi selalu berada diposisi terdepan untuk memimpin pasukan
menghadapi musuhnya. Dan dalam setiap peperangan pasti ada sosok pahlawan yang
tangguh dan gagah memukul musuhnya dengan semangat dan keberanian yang membara.
Diceritakan suatu hari ali bin abi tolib beserta sebagian sahabat Nabi, merasa
ketakutan dan berputus asa dalam menghadapi musuhnya,serta memerah sorot mata
sahabat ali dan sebagian sahabatnya karena semakin terpojok, kemudian mereka
berlindung kepada Nabi Muhammad, dan posisi Nabi Muhammad sangat dekat dengan
musuhnya.Diceritakan juga ketika sahabat jabir bin Abdullah bersama Nabi
Muhammad dalam perang Dhaturiqog, sesampainya kami dibawah pohon yang rindang,
ia dan Nabi beristirahat sebentar dibawah pohon tersebut dengan posisi pedang Nabi
digantungkan diatas pohon, tiba-tiba datang laki-laki musrik seraya menghunus
pedangnya dihadapan Nabi, kemudian laki-laki tersebut bertanya kepada Nabi,
apakah engkau takut,,? tidak jawab Nabi dengan tegas. Siapa yang membuatmu
tidak takut mengadapiku? Nabi menjawab "Allah".
Perlu diketahui juga
bahwasanya peperangan yang diikuti Nabi Muhammad bersifat defensif bukan
agresif. Semua perang yang diikuti Nabi Muhammad itu sebagai reaksi dari
serangan kafir qurais. Jadi perang yang diikuti Nabi bukanlah untuk menyebut
sebuah system pemerintahislamyang didirikan atas jihad, karena perang yang
diikuti rosulullah pada hakekatnya adalah fase dari beberapa fase dakwahnya Nabi,
seperti fase awal dakwah adalah sembunyi-sembunyi, kemudian secara
terang-terangan dan seterusnya. Berdasarkan hadist dan beberapa atsar
bahwasanya perintah perang turun setelah Nabi Muhammd melakukan hijrah, namun
perintah ini baru benar-benar dilaksnakan pada bulan shofar, satu tahun setelah
rasulullah tiba dikota madinah. Pada waktu itu Nabi berniat keluar rumah untuk mengikuti
perang yang pertama. Perang sebenarnya tidak benar-benar meletus, karena yang
harusnya terjadi peperangan antara umat islam dengan pasukan qurais dan bani
hamzah, ternyata berakhir denga perjanjian damai, rosulullah pun batal
berperang dan kembali bersama sahabat ke kota madinah. Keberanian itu bukan
hanya untuk perang melawan musuh akan tetapi keberanin sejati adalah keberanian
untuk melawan hawa nafsunya, hal ini seperti yang disabdakan Nabi Muhammad,
“Kita
telah kembali dari perang kecil menuju perang yang lebih besar, yaitu perang
melawan hawa nafsu”.
Ya benar hawa nafsu
adalah suatu yang harus diperangi dan dikalahkan. Karena hawa nafsu selalu
mengajak kepada kemungkaran. Suatu malam penulis mendengar nasehat dari ustad
Sukri, beliau berkata orang zaman sekarang ini aneh, orang zaman sekarang takut
mati, akan tetapi kalau hidup takut menghadapi masa depan, orang zaman sekarang
miskin keyakinan kepada Allah, Allah yang telah menghidupkan maka Allah pulalah
yang akan menjaminnya. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita selalu yakin,
optimis serta penuh keberanian untuk menghadapi kehidupan ini dengan satu
tujuan, yaitu mencari ridho Allah semata bukan untuk mencari harta benda serta
pangkat dunia.
Para bijak bestari juga
berkata, kita harus lebih berani melawan diri sendiri dari pada melawan orang
lain. Taklukanlah diri sendiri sebelum engkau menaklukan dunia. Kalau penulis
amati sebenarnya runtutan sebuah kesuksesan adalah adanya keberanian dalam hati
yang mendorong seseorang untuk bergerak mencapai apa yang diinginkan, dan tidak
akan kembali sampai ia mendapatkan apa yang diinginkan, keberanian mendorong
sesorang untuk menguasai sesuatu sampai ia bertemu dengan sebuah kesulitan dan
ia mampu mengatasinya bukan malah menyerah dan putus asa.
Perlu diketahui juga
bahwasanya yang dinamakan keberanian itu tidak harus selalu melangkah maju,
maju dan maju akan tetapi maju sekiranya mempunyai kemantapan hati untuk maju,
dan mundur sekiranya hati mempunyai keyaqinan untuk mundur. Jadi untuk maju
kedapan kita butuh yang namanya keberanian dan pertimbangan. Jadi bisa dikatakan
keberanian adalah batas tengan antara takut dan spekulasi (ngawur). Dalam
ketakutan ada kehilangan, dan dalam spekulasi ada melampaui batas. Dan dalam
keberanian ada keselamatan. Jikalau hatimu tidak mempunyai keberanian untuk
melangkah, dan engkau disuruh milih antara diam karena takut melangkah atau
berspekulasi. Maka pilihlah untuk berspekulasi, karena dalam ketakutan tidak
ada kebaikan sama sekali, sedangkan dalam spekulasi terkadang akan mendapatkan
yang diinginkan.
Kemudian KH Hasyim
Asy’ari melanjutkan pembahasanya bahwasanya Nabi Muhammad itu selalu menolong
mereka yang tertindas, menolong yang lemah dari kedholiman yang kuat, selalu
menjadi yang terdepan dalam menolong orang yang membutuhkan, Nabi Muhammad juga
selalu menjaga orang lemah dari orang yang ingin menyakiti dan membuat mereka
tenang dari rasa ketakutannya. Adapun orang-orang yang ketika dimintai
pertolongan untuk memadamkan rumah yang terbakar dan ia enggan, atau datang
membantu tapi untuk menjarah harta dari rumah yang terbakar. dan Orang-orang
yangapabila melihat hewan yang hendak menyambar anak kecil dan ia engan
menolong, dan orang-orang yang apabila melihat wanita yang mau dirampok dan
hanya terdiam, maka sesungguhnya mereka semua adalah orang-orang penakut yang
lari dari kematian kemudian jatuh pada pada lubang kematian (hati dan
perasaanya). Rosulullah bersabda seburuk-buruknya manusia adalah orang pelit
yang menyebabkan keresahan dan penakut yang menyebabkan kelemahan.
Prof. Dr. Mustafa
Al-Ghalayaini berpendapat bahwasanya keberanian itu dibagi menjadi dua. Pertama
keberanian asali yaitu keberanian yang mendorong seseorang untuk mempertahankan
dirinya, negaranya dari orang-orang yang mengharapkan keburukan padanya, sampai
Allah memutuskan akhir dari perkaranya.
Apabila ia memperoleh kemenangan maka ia akan mendapatkan kemuliaan, dan
apabila ia tidak mendapatkan apa yang dimaksudkan maka ia akan dicatat sebagai
orang-orang yang ikhlas beramal.
Kedua keberanian akhlaqi
adalah keberanian yang mendorong seseorang untuk membela orang yang tertindas,
menolak ketidak adilan, mengatakan kebenaran walaupun pahit dan dihadapan
penguasa serta mendorong seseorang untuk memberikan petunjuk dengan cara
bijaksana, moderat.
Artikel Terkait:
MUNGKIN BEBERAPA ARTIKEL DIBAWAH INI ADALAH INFORMASI YANG ANDA CARI:
Islami
- HAFIDZ QUR'AN 30 JUZ JADI GAY
- QONAAHNYA NABI MUHAMMAD DAN SEBUAH FAKTA MAKANAN KESUKAAANNYA BANYAK TUMBUH DI NUSANTARA
- KASIH SAYANG NABI TERHADAP ORANG LEMAH MENUNJUKAN PERHATIAN LEBIH TERHADAP RANAH SOSIAL BERMASYARAKAT
- KESAKSIAN ALLAH AKAN AGUNGNYA AKHLAK NABI MUHAMMAD
- KELAHIRAN NABI MUHAMMAD DAN PERTUMBUHANNYA
- SIROH NABAWIYAH BAGIAN II
- SEJARAH MAULID NABI MUHAMMAD SAW
- HUKUM DROPSHIP DALAM ISLAM
- MEMAKNAI HARI SANTRI NASIONAL
0 comments:
Post a Comment
Silahkan Tinggalkan Komentar, jangan ada spam, sara, dan pornografi. saya menghormati komentar selain itu..........:)