17 Februari 2012

BERBAKTI KEPADA IBU

Share on :

Bismillahirrahmanirrahim, kali ini penulis ingin mencoba menguraikan sedikit ulasan tentang Berbakti kepada Ibu. Keinginan untuk menulis ini adalah ketika teringat betapa berjasanya Ibu terhadap hidup kita, akan tetapi kita belum bisa membuat ibu kita tersenyum bahagia melihat kita, dan itu muncul ketika penulis membaca sebuah buku berjudul Ada Surga di Tapak Kaki Ibukarya Mokh. Syaiful Bahri.

Pertama mari kita kutip sebuah ayat Al-Qur’an :
“Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan kamu hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jiika salah seorang diantara keduanya atau keduanya berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan perkataan “hus”. Jangan (pula) kalian membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulai. Rendahkanlah kalian terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Tuhan, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil”.

Segala puji bagi Allah yang telah memerintahkan kita semua untuk tidak berkata kasar, bahkan mengatakan hus pun Dia larang. Jika melihat ayat diatas, tentu perintah Allah tidak hanya untuk memuliakan ibu saja, melainkan kedua orang tua. Namun kali ini, dengan tidak mengunder-estimate kan perintah memuliakan ayah atau bapak atau babe atau istilah-istialah lainnya, penulis mencoba menguraikan tentang keutamaan seorang Ibu dibandingkan seorang ayah……..^_^

          Tentang keutamaan seorang ibu, dikisahkan dalam sebuah hadist, bahwasanya “dari bahz bin hakim meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang menemui Rasulullah, kemudian lelaki itu bertanya:” siapa yang harus saya taati? Rasulullah menjawab:”Ibumu”. Dia bertanya lagi:”kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab:”Ibumu”. Dia bertanya lagi:”Kemudian siapa lagi?” Rasulullah masih menjawab:”Ibumu”. dia bertanya lagi “Kemudian siapa lagi?”. Rasulullah menjawab:”Ayahmu kemudian kerabat terdekat yang disusul kerabat yang lain.”

          Dari hadist tersebut telah jelaslah bahwa orang yang paling harus dimuliakan adalah IBU. Teramat mulianya kedudukan seorang ibu, sehingga Allahpun memberi keistimewaan kepadanya, dimana setiap do’a seorang ibu untuk anaknya adalah do’a yang tidak pernah tertolak meski do’a itu adalah do’a yang tidak baik. Maka dari itu, baik-baiklah terhadap ibu.

Banyak  sekali dikisahkan cerita zaman dulu tentang keutamaan orang-orang yang memuliakan orang tuanya, terutama Ibu. Salah satunya adalah kisah tentang seorang penjual daging yang kelak akan menjadi teman nabi Musa di surga yang penuh kenikmatan. Dikisahkan pada zaman nabi Musa, ada seorang penjual daging yang tinggal berdua dengan ibunya. Ibunya adalah seorang yang sudah tua renta, lumpuh, dan hanya bisa berbaring tanpa bisa berjalan sendiri, karena itulah segala keperluan ibunya dia yang mengurus. Dia melayani Ibunya bak burung merpati yang menyuapi anaknya. Berkat ketulusannya dalam melayani ibunya itulah, dia mencapai derajat tertinggi di sisi Allah, bahkan Allah memberi kabar gembira baginya melalui nabi Musa bahwasanya ia akan menjadi teman Nabi Musa kelak di Surga.

Cerita lain datang dari zaman Rasulullah, bahwasanya ada seorang laki-laki yang rajin beribadah kepada Allah yang bernama Abdullah bin salam, namun ternyata Ibunya tidak ridho terhadapnya karena ia lebih mementingkan istrinya daripada ibunya sendiri. Suatu ketika abdullah menghadapi sakaratul maut, ketika itu Rasulullah membimbingnya untuk mengucapkan kalimat syahadat, namun mulutnya seakan terkunci, tak bisa berucap sepatah katapun. Setelah itu Rasulullah memerintahkan bilal untuk memanggil ibunya. Namun ibunya tidak mau datang, hingga akhirnya Rasul mengutus Sahabat Ali dan Sahabat Umar untuk membujuk ibunya.

Setelah dibujuk, akhirnya ibunya mau juga datang menemui Rasulullah. Kemudian Rasulullah meminta Ibu itu untuk meridhoi anaknya yang sedang sekarat. Namun Ibu itu menjawab: “Bagaimana aku bisa meridhoinya, sedang dia memukulku, mengusirku dari rumahnya, menyakitiku serta melanggar perintahku”

Akhirnya rasulullah memutuskan untuk membakar jasad laki-laki itu karena ibunya tidak mau meridhoinya sehinga menyulitkannya untuk diambil ruhnya. Mendengar keputusan itu, sang ibu pun tidak tega kepada anaknya sehingga sang Ibu mau meridhoinya. Sesaat setelah ibunya meridhoinya, Abdullah bin salam pun bisa mengucapkan kalimat syahadat dengan dibimbing oleh Rasulullah, dan ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan membawa ridho dari ibunya.

Demikian adalah sepenggal kisah tentang kebaktian seorang anak kepada Ibunya. Dimana seorang dapat mencapai derajat tinggi dengan memuliakan Ibunya, sebaliknya seorang akan terhina dan sengsara jika dalam hidupnya melalaikan Ibunya. Semoga kita semua termasuk hambaNya yan tergolong dalam orang-orang yang memuliakan orang tua kita, terutama Ibu. Sehingga nantinya kita dapat berkumpul dengan Rasulullah di Surga seperti Sabdanya: “Demi Allah yang telah mengutusku sebagai nabi, seseorang yang dikaruniai harta kekayaan oleh Allah kemudian dia berbakti kepada kedua orang tuanya akan bersama denganku di Surga”. Amin Ya Robb…………………..^_^

Wallahu A’lamu……………….(^_^)





Artikel Terkait:

MUNGKIN BEBERAPA ARTIKEL DIBAWAH INI ADALAH INFORMASI YANG ANDA CARI:

Reaksi:

1 komentar:

Wah, mantapz nih...
bener tuh Gan. Bahkan katnya sangking berbaktinya Gus Mus pada ibunya, beliau gak pernah sholat istikharoh selama ibunya masih ada.

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar, jangan ada spam, sara, dan pornografi. saya menghormati komentar selain itu..........:)