30 Mei 2011

Akhdzul I'tibar

Share on :


Akhî fillâh, ukhtî fillâh! Kisah berharga tentang keteladanan dan tarbiyah ruhani telah dihadirkan oleh sejarah kepada kita, hadir sebagai panduan akhlak mulia. Bacalah kisah Rosulullah saw., sungguh Maha Suci Alloh yang telah menjadikannya sebagai qudwah hasanah bagi umat manusia!
Suatu malam, saat suasana sunyi dan cahaya remang, Baginda Nabi saw. sedang bersama ummul mu'minîn Shofiyah ra. bercengkerama di dekat pintu masjid. Tiba-tiba dua orang laki-laki Anshor melintas, berpapasan jalan dengan Baginda. Setelah mereka tahu bahwa salah satu dari orang yang ditemuinya adalah Nabi saw., seketika itu juga keduanya segera mempercepat langkah untuk pergi.
"Pelanlah, dia adalah Shofiyah binti Huyay!" sabda Nabi memberi tahu.



Mendengar itu salah seorang dari mereka pun menjawab, "Subhânallôh, saya tidak menaruh curiga kepada engkau, ya Rasulalloh!" wajah kedua orang itu tampak tak menentu, terlihat serba rikuh.
"Sesungguhnya syetan mengalir dalam diri manusia mengikuti aliran darah, maka aku khawatir ia memuntahkan prasangka buruk pada hati kalian berdua!" dengan bijak Nabi menjelaskan maksud sabdanya tadi. (HR. Bukhari, Muslim)
***
Rasanya tak terbayang betapa celakanya bila syetan benar-benar mengalir dalam diri kedua laki-laki Anshor tersebut, mengikuti aliran darah, lalu memuntahkan prasangka buruk pada hati mereka. Karena sosok yang ada di hadapan mereka ini bukanlah manusia seperti layaknya manusia biasa, tapi ia adalah manusia termulia, manusia pilihan, teladan, ma'shum, terpelihara dari segala cela dan dosa, basyarun lâ kal basyar. Dan bersyukurlah, karena Baginda saw. segera mengingatkannya.
Akhî fillâh, Ukhtî fillâh! Bila kenyataan itu sebaliknya, maka betapa celaka, celaka, dan celakanya! Ini seperti yang telah dialami oleh Dzul Khuwaisiroh, laki-laki yang telah menuntut keadilan kepada Nabi saw., dan mengatakan bahwa pembagian yang dilakukan Baginda tidaklah adil. Dzul Khuwaisiroh tak mau mengedepankan husnudhon, mengambil sikap yang lebih baik, mahmal hasan. Tak memahami hikmah syar'i dari sikap keputusan Nabi saw. Ia telah lebih dahulu berburuk sangka. Maka celakalah ia, bahkan dirinya dan anak keturunannya. Dari sulbi mereka muncul kemudian bibit Khawarij, kelompok yang memisahkan diri dari jama'ah kaum muslimin.
Karena itu kita mesti berusaha untuk memahami dengan bijak apakah hasrat yang ada di dalam batin ini adalah suatu kedurhakaan atau bukan. Karena bila kenyataannya ia merupakan hasrat tercela yang bisa memunculkan rencana durhaka, maksiat, atau bahkan sampai pada suatu keinginan kuat, ber'azam untuk melakukannya, maka hal itu sangat bernilai dosa." Alloh Swt. telah berfirman,"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Alloh? — Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Âli 'Imrân: 135)
Berbeda halnya dengan yang meneruskan perbuatan keji, atau menyimpan dendam kesumat di dalam hati, maka keduanya ini termasuk mereka yang celaka. Sebagaimana sabda Nabi saw. ,"'Apabila dua orang muslim mengadu kedua pedangnya (saling membunuh, maka pembunuh dan yang terbunuh berada di neraka!' lalu Nabi ditanya, 'Wahai Rasululloh! Dia ini (nyata perkaranya sebagai) pembunuh, lalu apa perkara yang terbunuh?' Nabi saw. menjawab, 'Dia dahulu sangat menginginkan (mendendam) kematian sahabatnya!'" (HR. Bukhari)
Akhi fillâh, Ukhtî fillâh! Adalah suatu keharusan bagi setiap muslim yang teguh dengan keyakinannya untuk menolak setiap hasrat tercela, menghindar dari kekeruhan yang disebabkan oleh suara-suara batin menggoda, dengan segera mengalihkannya kepada hasrat baik yang membimbing kepada takwa, menjaga kebeningan jiwa, meraih kebahagiaan tiada tara. Bukankah Nabi saw. juga bersabda, "Tinggalkan apa yang engkau ragukan (beralih) kepada apa yang tidak engkau ragukan!" (HR. Tirmidzi dan Nasa'i)
Ingat kata pepatah, "Ambillah yang jernih, dan tingalkan yang keruh!" lalu renungkan Firman Alloh Swt., "Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang." (QS. al-A'lâ: 14-15)

Akhî fillâh, ukhtî fillâh! Kisah berharga tentang keteladanan dan tarbiyah ruhani telah dihadirkan oleh sejarah kepada kita, hadir sebagai panduan akhlak mulia. Bacalah kisah Rosulullah saw., sungguh Maha Suci Alloh yang telah menjadikannya sebagai qudwah hasanah bagi umat manusia!
Suatu malam, saat suasana sunyi dan cahaya remang, Baginda Nabi saw. sedang bersama ummul mu'minîn Shofiyah ra. bercengkerama di dekat pintu masjid. Tiba-tiba dua orang laki-laki Anshor melintas, berpapasan jalan dengan Baginda. Setelah mereka tahu bahwa salah satu dari orang yang ditemuinya adalah Nabi saw., seketika itu juga keduanya segera mempercepat langkah untuk pergi.
"Pelanlah, dia adalah Shofiyah binti Huyay!" sabda Nabi memberi tahu.


Mendengar itu salah seorang dari mereka pun menjawab, "Subhânallôh, saya tidak menaruh curiga kepada engkau, ya Rasulalloh!" wajah kedua orang itu tampak tak menentu, terlihat serba rikuh.
"Sesungguhnya syetan mengalir dalam diri manusia mengikuti aliran darah, maka aku khawatir ia memuntahkan prasangka buruk pada hati kalian berdua!" dengan bijak Nabi menjelaskan maksud sabdanya tadi. (HR. Bukhari, Muslim)
***
Rasanya tak terbayang betapa celakanya bila syetan benar-benar mengalir dalam diri kedua laki-laki Anshor tersebut, mengikuti aliran darah, lalu memuntahkan prasangka buruk pada hati mereka. Karena sosok yang ada di hadapan mereka ini bukanlah manusia seperti layaknya manusia biasa, tapi ia adalah manusia termulia, manusia pilihan, teladan, ma'shum, terpelihara dari segala cela dan dosa, basyarun lâ kal basyar. Dan bersyukurlah, karena Baginda saw. segera mengingatkannya.
Akhî fillâh, Ukhtî fillâh! Bila kenyataan itu sebaliknya, maka betapa celaka, celaka, dan celakanya! Ini seperti yang telah dialami oleh Dzul Khuwaisiroh, laki-laki yang telah menuntut keadilan kepada Nabi saw., dan mengatakan bahwa pembagian yang dilakukan Baginda tidaklah adil. Dzul Khuwaisiroh tak mau mengedepankan husnudhon, mengambil sikap yang lebih baik, mahmal hasan. Tak memahami hikmah syar'i dari sikap keputusan Nabi saw. Ia telah lebih dahulu berburuk sangka. Maka celakalah ia, bahkan dirinya dan anak keturunannya. Dari sulbi mereka muncul kemudian bibit Khawarij, kelompok yang memisahkan diri dari jama'ah kaum muslimin.
Karena itu kita mesti berusaha untuk memahami dengan bijak apakah hasrat yang ada di dalam batin ini adalah suatu kedurhakaan atau bukan. Karena bila kenyataannya ia merupakan hasrat tercela yang bisa memunculkan rencana durhaka, maksiat, atau bahkan sampai pada suatu keinginan kuat, ber'azam untuk melakukannya, maka hal itu sangat bernilai dosa." Alloh Swt. telah berfirman,"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Alloh, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Alloh? — Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Âli 'Imrân: 135)
Berbeda halnya dengan yang meneruskan perbuatan keji, atau menyimpan dendam kesumat di dalam hati, maka keduanya ini termasuk mereka yang celaka. Sebagaimana sabda Nabi saw. ,"'Apabila dua orang muslim mengadu kedua pedangnya (saling membunuh, maka pembunuh dan yang terbunuh berada di neraka!' lalu Nabi ditanya, 'Wahai Rasululloh! Dia ini (nyata perkaranya sebagai) pembunuh, lalu apa perkara yang terbunuh?' Nabi saw. menjawab, 'Dia dahulu sangat menginginkan (mendendam) kematian sahabatnya!'" (HR. Bukhari)
Akhi fillâh, Ukhtî fillâh! Adalah suatu keharusan bagi setiap muslim yang teguh dengan keyakinannya untuk menolak setiap hasrat tercela, menghindar dari kekeruhan yang disebabkan oleh suara-suara batin menggoda, dengan segera mengalihkannya kepada hasrat baik yang membimbing kepada takwa, menjaga kebeningan jiwa, meraih kebahagiaan tiada tara. Bukankah Nabi saw. juga bersabda, "Tinggalkan apa yang engkau ragukan (beralih) kepada apa yang tidak engkau ragukan!" (HR. Tirmidzi dan Nasa'i)
Ingat kata pepatah, "Ambillah yang jernih, dan tingalkan yang keruh!" lalu renungkan Firman Alloh Swt., "Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang." (QS. al-A'lâ: 14-15)




Artikel Terkait:

MUNGKIN BEBERAPA ARTIKEL DIBAWAH INI ADALAH INFORMASI YANG ANDA CARI:

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Komentar, jangan ada spam, sara, dan pornografi. saya menghormati komentar selain itu..........:)